Jumat, 24 April 2026

Berita Sulawesi Tenggara

Mengenal Lebih Dekat KH Mursyidin, Masa Kecil dan Pengabdian 2 Periode di MUI Sulawesi Tenggara

Perjalanan hidup Drs KH Mursyidin, M.HI, sarat dengan dedikasi terhadap pendidikan, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat.

Tayang:
zoom-inlihat foto Mengenal Lebih Dekat KH Mursyidin, Masa Kecil dan Pengabdian 2 Periode di MUI Sulawesi Tenggara
TribunnewsSultra.com/(TribunnewsSultra.com/Apriliana Suriyanti)
KH MURSYIDIN - Mantan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) 2021-2026, KH Mursyidin saat diwawancarai TribunnewsSultra.com di kantornya di Jalan Budi Utomo, Kecamatan Kadia, Kota Kendari, Kamis (12/2/2026). Kiai Mursyidin merupakan putra daerah Watampone, Ibu Kota Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang lahir pada 31 Desember 1957 dan hijrah ke Kota Kendari pada 1985. 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Perjalanan hidup Drs KH Mursyidin, M.HI, sarat dengan dedikasi terhadap pendidikan, dakwah, dan pengabdian kepada masyarakat.

Ia adalah sosok Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) dua periode. 

Tahun ini menjadi kepemimpinan terakhirnya di lembaga swadaya masyarakat wadah musyawarah para ulama, zu'ama (pemimpin), dan cendekiawan Muslim di Sultra.

Kiai Mursyidin merupakan putra daerah Watampone, Ibu Kota Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang lahir pada 31 Desember 1957.

Pendidikan dasarnya ditempuh di SD 8 Watampone hingga tahun 1970.

Sejak kecil, Kiai yang saat ini berusia 68 tahun ini telah menunjukkan ketekunan dalam menuntut ilmu agama.

Pada sore hari, dia mengikuti sekolah Arab, sementara malam harinya diisi dengan mengaji dan menghafal Al-Qur’an.

Baca juga: Suasana Salat Idul Adha 2022 di Masjid Al Kautsar Kendari, Imam KH Mursyidin, Khatib Djakri Nappu

Tak lama kemudian berdiri Pondok Pesantren Ma’had Hadits Biru Watampone.

Dia pun melanjutkan pendidikan di pondok tersebut untuk menuntaskan hafalan 30 juz Al-Qur’an.

Selama kurang lebih empat tahun menimba ilmu, KH Mursyidin berhasil menyandang predikat hafidz pada tahun 1973.

"Jadi kami tidak pernah sekolah formal, empat tahun di pondok pesantren menghafal, lalu ikut ujian persamaan dua kali," katanya diwawancarai TribunnewsSultra.com.

Setelah dinyatakan lulus pada 1976, dia melanjutkan pendidikan di IAIN Watampone dan meraih gelar Sarjana Muda.

Dia kemudian hijrah ke Makassar untuk menempuh pendidikan di IAIN Makassar hingga memperoleh gelar Doktorandus (Drs) pada 1984.

"Saya selesai tahun 1984, jadi kita dulu tujuh tahun baru bisa selesai dapat sarjana itu termasuk cepat," jelasnya.

Pada 1985, dia memutuskan pindah ke Kota Kendari untuk mendaftar sebagai pegawai negeri sipil.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved