Prediksi Rincian Harga Emas Antam, UBS dan Galeri24 Periode 27 Maret 2026, Stabil atau Turun?
Prediksi rincian harga emas per gram dari Antam, UBS dan Geleri 24. Ketiga jenis emas tersebut, diprediksi terpantau stabil pada Jumat (27/3/2026).
Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Desi Triana Aswan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/ilustrasi-emas-batangan-2532026.jpg)
Sementara itu, kontrak emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman April juga merosot 7 persen ke posisi 4.554,70 dolar AS per ons.
Analis menilai, tekanan terhadap emas terjadi karena perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan bank sentral.
Kenaikan harga energi akibat konflik Iran mendorong inflasi, sehingga memicu spekulasi bahwa bank sentral utama dunia akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Emas yang selama ini dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik justru kehilangan daya tariknya dalam kondisi suku bunga tinggi.
Hal ini karena emas tidak memberikan imbal hasil seperti bunga, sehingga investor cenderung beralih ke instrumen lain yang lebih menguntungkan.
Ahli strategi komoditas TD Securities, Daniel Ghali, mengatakan bahwa selama setahun terakhir emas banyak diminati oleh investor institusional karena tren pelemahan mata uang.
Namun, menurutnya, fondasi tren tersebut mulai melemah dalam jangka pendek.
Ia menambahkan, masih ada ruang bagi harga emas untuk terus turun, meskipun tren pasar bullish jangka panjang belum sepenuhnya hilang.
Di sisi lain, lonjakan harga minyak juga menjadi faktor penting yang memengaruhi pasar.
Harga minyak mentah Brent saat ini diperdagangkan di atas 110 dolar AS per barel, setelah Iran melancarkan serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah sebagai respons atas serangan Israel terhadap ladang gas South Pars.
Kondisi geopolitik yang memanas turut meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.
Bahkan, pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah mempertimbangkan pengerahan ribuan pasukan tambahan ke Timur Tengah, yang menandakan potensi eskalasi konflik lebih lanjut.
Selain emas, logam mulia lainnya juga mengalami tekanan. Harga perak spot turun tajam 10,7 persen menjadi 67,26 dolar AS per ons.
Platinum melemah 6,8 persen ke level 1.886,13 dolar AS, sementara paladium turun 4,1 persen menjadi 1.415,41 dolar AS per ons.
Analis pasar menyebutkan bahwa aksi ambil untung oleh investor setelah reli kuat sepanjang 2025 turut mempercepat penurunan harga emas.
Penguatan dolar AS dan pergeseran minat investor ke sektor energi, khususnya minyak dan gas, juga memperburuk tekanan terhadap logam mulia tersebut.
Dengan kondisi ini, pergerakan harga emas ke depan diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik, arah kebijakan suku bunga global, serta dinamika pasar energi dunia. (*)
(TribunPontianak.co.id)(TribunnewsSultra.com/Desi Triana)(Serambinews.com/Sri Anggun Oktaviana)