Menyapa Nusantara
Merawat Nasionalisme Melalui Pendidikan dan Kebudayaan
Salah satu bentuk refleksi tersebut adalah merawat nasionalisme melalui pemajuan bidang pendidikan dan kebudayaan.
Penulis: Content Writer | Editor: Amelda Devi Indriyani
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, JAKARTA - Usia kemerdekaan Indonesia sudah memasuki tahun ke-80. Sebagai warga negara, momen ini merupakan saat yang tepat merefleksikan apa yang dapat kita berikan kepada Indonesia dalam membangun rasa nasionalisme di tengah kemajuan era digital dan AI?
Salah satu bentuk refleksi tersebut adalah merawat nasionalisme melalui pemajuan bidang pendidikan dan kebudayaan.
Di tengah pesatnya kemajuan teknologi kecerdasan buatan (AI), dunia pendidikan dan kebudayaan kita menghadapi tantangan serius. Kemudahan akses informasi memang mempercepat penyebaran pengetahuan, tetapi juga membawa dampak negatif: menurunnya kualitas literasi kritis, memudarnya arah pendidikan karakter, serta melemahnya semangat nasionalisme di kalangan generasi muda.
Data-data yang ada mengisyaratkan bahaya yang tidak bisa diabaikan. Laporan Programme for International Student Assessment (PISA) --program penilaian internasional yang diselenggarakan oleh OECD-- pada 2022 menunjukkan skor literasi membaca dan matematika siswa Indonesia turun drastis.
Untuk pengetahuan matematika, Indonesia mendapat skor 366 poin. Skor membaca mendapat skor 359 dan sains dengan skor 383 poin. Penilaian terendah adalah pada domain membaca. Hal ini menggambarkan ketertinggalan daya saing bibit generasi nasional saat ini.
Sejumlah negara tetangga berhasil mendapatkan skor PISA rata-rata lebih tinggi dibandingkan Indonesia. Misalnya saja, Singapura dengan rata-rata skor PISA 560, Korea Selatan dengan poin 523. Skor negara Vietnam, Malaysia dan Thailand mendapat skor lebih baik dari Indonesia.
Senada dengan itu, hasil survei Indikator Politik Indonesia pada 2023 menunjukkan bahwa sekitar 24 persen anak muda merasa nasionalisme sudah tidak lagi relevan di era globalisasi.
Bagi sebagian generasi muda yang lebih terhubung dengan komunitas global melalui media sosial, pendidikan internasional, dan tren budaya popular, nilai-nilai nasional seperti cinta tanah air, simbol-simbol kebangsaan, dan semangat kolektif sudah ketinggalan zaman.
Ini adalah sinyal peringatan serius yang perlu segera direspons.
Di era digital yang dibanjiri algoritma personalisasi, anak-anak dan remaja kita lebih banyak “dididik” oleh konten media sosial ketimbang oleh guru dan orang tua. AI menawarkan jawaban cepat, tetapi tidak mengajarkan makna, konteks, dan tanggung jawab.
Dampaknya, pendidikan tidak lagi membentuk manusia seutuhnya, melainkan mencetak generasi yang cepat tahu namun dangkal (superficial) dalam pemahaman dan empati.
Hakekat Pendidikan
Para filsuf pendidikan telah lama mengingatkan kita akan hal ini. Paulo Freire mendefinisikan pendidikan sejati bukan sebagai proses menjejali pikiran siswa, melainkan “praktik kebebasan” yang menumbuhkan kesadaran kritis.
Sementara itu, John Dewey menekankan bahwa pendidikan harus berakar pada pengalaman nyata dan membentuk warga negara yang bertanggung jawab.
Ki Hadjar Dewantara pun mengajarkan bahwa pendidikan sejati adalah yang “memerdekakan manusia”. Dalam konteks masa kini, itu berarti memampukan siswa untuk menilai secara kritis narasi global, mengakar pada nilai-nilai bangsa, dan tetap terbuka terhadap perubahan zaman.
| Pasar Basah Mandonga Kota Kendari Sulawesi Tenggara Sepi Pembeli, Pedagang Beras Hanya Andalkan SPHP |
|
|---|
| Veteran Sulawesi Tenggara Harap Pemerintah Perjuangkan Pendidikan dan Kesejahteraan Rakyat |
|
|---|
| Daftar 10 Lagu Nasional Tema Kemerdekaan 17 Agustus, Bangkitkan Jiwa Nasionalisme |
|
|---|
| Syarat WNA Bisa Ajukan Visa Pendidikan Non Formal Indonesia, Daftar Online, Biaya PNBP |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Pengendara-melintas-di-samping-dekorasi-bertema-kemerdekaan-di-kawasan-Pasar-Gede-Jawa-Tengah.jpg)