Senin, 20 April 2026

Berita Konawe Utara

Nelayan di Sawa Konawe Utara Keluhkan Pendapatan Menurun Imbas Cuaca dan Area Penangkapan Ikan

Sejumlah nelayan di Kecamatan Sawa, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara mengeluhkan pendapatan menurun pada Agustus 2025.

Tayang:
Penulis: Nursaida | Editor: Sitti Nurmalasari
zoom-inlihat foto Nelayan di Sawa Konawe Utara Keluhkan Pendapatan Menurun Imbas Cuaca dan Area Penangkapan Ikan
TribunnewsSultra.com/Nursaida
NELAYAN KONAWE UTARA - Sejumlah nelayan saat menangkap ikan dengan jaring di Pantai Wale, Desa Ulu Sawa, Kecamatan Sawa, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Rabu (20/8/2025). Sejumlah nelayan mengaku hasil tangkap ikan pada Agustus mengalami penurunan dibandingkan sebelumnya. (TribunnewsSultra.com/Nursaida) 

TRIBUNNEWSSULTRA.COK, KONAWE UTARA - Sejumlah nelayan di Kecamatan Sawa, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengeluhkan pendapatan menurun pada Agustus 2025.

Ato Daeng Manandrang, seorang nelayan asal Kecamatan Sawa, menyebut hasil tangkapan bulan Agustus lebih sedikit dibanding sebelumnya.

Meski harga ikan seperti kerapu dan kakap merah bisa mencapai Rp250 per kilogram di beberapa perusahaan, tetapi faktor cuaca, ombak, hingga area tangkap menjadi kendala utama.

"Bulan ini kurang. Musim ombak, angin, cuaca," ujarnya saat diwawancarai TribunnewsSultra.com, Rabu (20/8/2025).

Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Konawe Utara, Irwansyah, membenarkan kondisi tersebut.

Baca juga: Pendapatan Daerah Sulawesi Tenggara Tahun 2024 Capai Rp4,918 Triliun, Begini Rinciannya

Ia menyebut penurunan pendapatan nelayan terutama dipengaruhi musim timur, membuat mereka sulit melaut lebih jauh.

“Faktor utama karena bulan Agustus ini musim timur. Nelayan tidak bisa pergi mencari lebih jauh lagi seperti bulan-bulan biasanya karena dipengaruhi faktor cuaca atau ombak,” jelas Irwansyah.

Selain faktor cuaca, Irwansyah menyoroti persoalan lain yang berdampak langsung pada nelayan, yakni praktik penangkapan ikan dengan cara tidak ramah lingkungan. 

Ia mencontohkan, wilayah Kecamatan Sawa sempat mengalami maraknya aksi pemboman ikan, sehingga ekosistem karang rusak dan ikan menjauh dari wilayah tangkap. 

Meski demikian, sejak sekitar tujuh tahun terakhir, masyarakat di beberapa desa telah berkomitmen untuk berhenti membom dan menjaga kelestarian laut.

Baca juga: Pendapatan Pantai Nambo dan Kebun Raya Kendari Sultra Capai Ratusan Juta per Bulan Usai Dibenahi

Hal ini mulai memberi hasil positif bagi nelayan setempat.

Untuk diketahui, Kecamatan Sawa merupakan salah satu wilayah yang diapit Kecamatan Lembo dan Motui.

Sebagian besar desa-desa di wilayah ini berada dekat dengan laut.

Jarak dari ibu kota Provinsi Sultra, Kota Kendari menuju wilayah ini sekitar 40 kilometer dengan waktu tempuh 1 jam.

Beberapa wisata pantai terkenal berada di wilayah ini, di antaranya Pantai Pudonggala dan Pantai Wale.

Baca juga: Hilirisasi Tambang Nikel di Sultra Kurang Berdampak Bagi Pendapatan Daerah, Masalahnya Masih Dikaji

Irwansyah juga mengingatkan, praktik penangkapan ikan menggunakan bahan peledak memiliki sanksi hukum berat.

Ia menegaskan upaya edukasi terus dilakukan, sembari berharap ada dukungan dari pihak lain memberikan solusi alat tangkap alternatif ramah lingkungan. (*)

(TribunnewsSultra.com/Nursaida)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved