Berita Kolaka Utara
Nelayan Tiwu Kolaka Utara Diajarkan Pakai Sero dan Bubu oleh USN Kolaka, Tingkatkan Hasil Tangkap
Nelayan di desa Tanggeawo, Kecamatan Tiwu, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (Sultra) diberikan edukasi penggunaan alat tangkap sero d
Penulis: Dewi Lestari | Editor: Amelda Devi Indriyani
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Nelayan di desa Tanggeawo, Kecamatan Tiwu, Kabupaten Kolaka Utara (Kolut), Sulawesi Tenggara (Sultra) diberikan edukasi penggunaan alat tangkap sero dan bubu oleh Universitas Sembilanbelas November (USN) Kolaka, Rabu (16/10/2024).
Kegiatan yang didanai DRTPM Kemendikbud Ristek 2024 ini, sebagai upaya untuk meningkatkan kapasitas produksi dan ekonomi kelompok Nelayan Karya Bersama.
Ketua tim pengabdian kepada masyarakat (PKM), Arif Prasetya mengatakan sero yang diperkenalkan memiliki kantong yang dapat ditarik.
Sehingga dalam proses hauling atau pengangkutan, bagian kantong nelayan dapat mudah mengambil hasil tangkapan.
Sedangkan, untuk alat tangkap bubu yang dibuat memiliki kapasitas yang besar dengan bahan yang kuat dan tahan lama di perairan laut.
“Kedua alat tangkap ini bersifat pasif dipasang diperairan laut, sehingga nelayan dapat melakukan aktifitas lainnya dan memeriksa hasil tangkapan kapan saja mereka inginkan,” kata Arif.
Baca juga: Ratusan Nelayan di Sawa Konawe Utara Sulawesi Tenggara Ikut Sosialisasi Pemilih Pilkada 2024
Arif menyampaikan selain memperkenalkan alat tangkap sero dan bubu, USN Kolaka juga melakukan rehabilitasi mangrove, sebagai upaya konservasi lingkungan perikanan.
Karena ekosistem mangrove memiliki fungsi fisik, ekologis, dan sosial ekonomi yang sangat penting bagi ekosistem pesisir dan laut, serta masyarakat di sekitarnya.
Ekosistem mangrove dapat menahan hempasan ombak atau angin saat terjadi badai, sehingga dapat melindungi keberadaan pantai, perumahan serta bangunan fisik lainnya.
Selain itu, juga berfungsi sebagai sumber plasma nutfah, tempat pemijahan, pengasuhan, dan tempat mencari makan bagi berbagai biota perairan seperti ikan, udang, dan kepiting.
“Secara ekonomi, ekosistem mangrove dapat dimanfaatkan untuk destinasi wisata, perikanan tangkap dan budidaya, serta sarana pendidikan dan pembelajaran,” tuturnya.
Dalam rehabilitasi mangrove, Arif menyebut pihaknya menggunakan bibit mangrove jenis Rhizophora mucronata.
Ia melibatkan kelompok pemerhati lingkungan tanggul semesta dan kelompok siswa pencinta alam SMAN 1 Kodeoha di Kecamatan Tiwu Kolaka Utara.
Dalam kegiatan ini, pihaknya berharap terjadi harmonisasi antara pemanfaatan sumberdaya perikanan, dan konservasi lingkungan perikanan.
Sehingga lingkungan dapat terjaga, dan memberikan kelimpahan ikan secara berkelanjutan di lokasi mitra kelompok nelayan.
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.