Apa Itu Kasus Monkeypox? Penularan Utama Lewat Hubungan Seksual, di Indonesia Tercatat 3 Kasus
Berikut ini mengetahui apa itu kasus Monkeypox? Simak penjelasan lengkap dalam artikel ini.
Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Desi Triana Aswan
TRIBUNNEWSSULTRA.COM- Berikut ini mengetahui apa itu Monkeypox ?
Simak penjelasan lengkap dalam artikel ini.
Di mana kasus Monkeypox nampaknya bertambah di Indonesia.
Sejak dilaporkan pada tahun 2022, tercatat tiga orang yang menderita Monkeypox.
Lantas seperti apa penularannya ?
Seperti diketahui, Monkeypox disebut cacar monyet.
Cacar monyet adalah penyakit zoonosis langka yang disebabkan oleh infeksi virus monkeypox.
Baca juga: Cacar Monyet Belum Terdeteksi di Kendari, Dinkes Tetap Imbau Masyarakat Waspada dan Kenali Gejala
Virus cacar monyet termasuk dalam genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae.
Genus Orthopoxvirus juga termasuk virus variola (penyebab cacar), virus vaccinia (digunakan dalam vaksin cacar), dan virus cacar sapi.
Penyakit ini ramai menjadi perbincangan setelah masuk kasus pertama pada tahun 2022.
Dilansir dari Tribunnews.com, Kementerian Kesehatan RI kembali melaporkan penambahan kasus baru cacar monyet atau Mpox.
Terbaru dilaporkan ada satu kasus baru yang teridentifikasi dari DKI Jakarta.
Tentunya, kasus ini menambah daftar nama penderita Monkeypox.
Total tiga orang warga Indonesia terkena penyakit Monkeypox.
Kontak Seksual Jadi Penularan Utama
Bagaimana cara penularan penyakit Monkeypox?
Ternyata, penularan penyakit ini terutama pada aktivitas hubungan seksual.
Terkait hal ini, Kepala Biro Komunikasi dan Pelatanan Publik Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi ungkap dari mana penyebaran penyakit Monkeypox ini.
"Penularannya melalui kontak erat terutama hubungan seksual," ungkapnya saat dihubungi Tribunnews, Jumat (20/10/2023).
Lebih lanjut Nadia pun menganjurkan masyarakat menghindari perilaku seks berisiko demi mencegah penularan Monkeypox.
"Yang perlu dilakukan tidak melakukan perilaku seks beresiko," imbaunya.
Di sisi lain, Pakar Ahli kesehatan masyarakat sekaligus epidemiolog Dicky Budiman beberkan kenapa penyakit menular seperti Monkeypox bisa menyebar.
Baca juga: Penjelasan Lengkap Kemenkes soal Cacar Monyet hingga Update Kasus Monkeypox di Indonesia
Pertama penyakit menular yang dari luar negeri kerap kali masuk dan tidak terdeteksi.
Sehingga menjadi pemicu terjadinya transmisi penularan secara lokal.
Kedua adalah karena contact treacing yang dilakukan tidak memadai.
"Sehingga luput menelusuri kasus kontak yang akhirnya menjadi pemicu penularan berikutnya. Ini yang menyebabkan terjadinya satu transmisi lokal di setiap penyakit menular," kata Dicky pada Tribunnews.
Artinya terjadi penularan yang silent, atau penularan tidak terdeteksi.
Ditambah lagi karakter penularan penyakit monkeypox mirip dengan pola penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV).
Karena mengarah terjadi pada kelompok yang cenderung tertutup.
"Dalam kaitan ini umumnya di kelompok gay, penyuka sesama jenis dengan perilaku berisiko tinggi. Antara lain gonta-ganti pasangan, seks tidak aman dan sebagainya," jelasnya.
Situasi ini menambah mudahnya terjadi transmisi lokal Monkeypox.
"Bahkan bisa saja ini sudah terjadi di kota-kota besar lainnya,"tutupnya.
Ciri-ciri Monkeypox
Gejala atau ciri-ciri monkeypox ini adalah:
Demam, kondisi ini merupakan tanda awal yang menunjukkan seseorang terinfeksi monkeypox.
Gejala ini biasanya datang sejak hari pertama hingga lima hari seusai terkena virus.
Sakit kepala parah. Selama demam, penderitanya juga akan merasakan sakit kepala tidak tertahankan.
Lemas merupakan salah satu ciri umum yang mengindikasikan seseorang terkena infeksi.
Membengkaknya kelenjar getah bening.
Gejala ini menunjukkan perbedaan cacar monyet dan cacar air.
Dapat terjadi pada bagian leher, selangkangan, maupun ketiak.
Ruam.
Penderita mengalaminya hingga selama 3 minggu di dekat anus, kelamin, mulut, wajah, serta dekat mata.
Pada 24 jam awal terlihat seperti bercak, lesi, maupun bintik kemerahan.
Kemudian setelah 4 hari, akan beralih menjadi bintik berisi nanah dan cairan.
Setelah enam hari, ruam mengering dan berubah jadi keropeng sekitar hari kesepuluh.
Kelelahan, fisik penderita dapat mengalami kelelahan, sehingga sulit beraktivitas.
Nyeri otot dan punggung, termasuk ke dalam gejala sampingan.
Gangguan pernapasan.
Beberapa penderita mengalami hidung tersumbat, sakit tenggorokan, dan batuk.
(*)
(Tribunnews.com)(TribunnewsSultra.com/Desi Triana)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.