Berita Kendari
Cacar Monyet Belum Terdeteksi di Kendari, Dinkes Tetap Imbau Masyarakat Waspada dan Kenali Gejala
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) belum mendeteksi adanya kasus masyarakat positif cacar monyet.
Penulis: Amelda Devi Indriyani | Editor: Sitti Nurmalasari
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Cacar-Monyet-Belum-Terdeteksi-di-Kendari-Dinkes-Tetap-Imbau-Masyarakat-Waspada-dan-Kenali-Gejala.jpg)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra) belum mendeteksi adanya kasus masyarakat positif cacar monyet.
Kepala Dinkes Kota Kendari, drg Rahminingrum mengatakan, walaupun penyakit tersebut belum terdeteksi di Kota Kendari, tetapi masyarakat tetap perlu waspada.
Kata dia, baik petugas kesehatan, fasilitas kesehatan yakni rumah sakit maupun puskesmas, harus siap sedia untuk mengantisipasi cacar monyet.
"Kalau ada pasien, kami sudah siap dengan apa yang mesti dilakukan," ujar drg Rahminingrum, Jumat (9/9/2022).
Ia menjelaskan, dampak yang ditimbulkan dari cacar monyet kepada yang terinfeksi tidak jauh berbeda dengan cacar pada umumnya.
Baca juga: Kota Kendari Deklarasikan Lima Pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Wujudkan Kota Layak Huni
drg Rahminingrum merinci yakni akan muncul ruam lepuh dan gatal berisi cairan pada tubuh, serta diiringi demam.
Selain itu, cacar monyet ini bisa menular melalui sentuhan langsung, baik dari orang ke orang ataupun alat-alat yang telah dipakai seperti handuk, pakaian, seprai dan lain sebagainya.
Kata dia, apabila masyarakat mengalami gejala tersebut maka segera datang ke pusat layanan kesehatan terdekat seperti rumah sakit maupun puskesmas untuk mendapatkan penanganan segera.
Cacar Monyet
Dilansir dari HelloSehat, cacar monyet alias monkeypox adalah penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh virus langka dari hewan (virus zoonosis).
Baca juga: Stok Vaksin Covid-19 di Dinas Kesehatan Kendari Menipis, Sinovac dan Moderna Kosong
Yakni virus human monkeypox (MPXV) orthopoxvirus dari famili poxviridae yang bersifat highlipatogenik atau zoonosis.
Virus Ini pertama kali ditemukan pada monyet di tahun 1958, sedangkan kasus pertama pada manusia (anak-anak) terjadi pada tahun 1970.
Di mana, terdapat beberapa tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah terinfeksi virus cacar monyet.
Di antaranya menghindari kontak langsung dengan tikus, primata, atau hewan liar lainnya yang mungkin terpapar virus (termasuk kontak dengan hewan yang mati di daerah terinfeksi).
Kemudian, menghindari kontak dengan benda apa pun, seperti tempat tidur, yang pernah disinggahi oleh hewan yang sakit.
Baca juga: Ratusan Tenaga Kesehatan di Kendari Sultra Vaksin Booster Kedua, Gunakan Setengah Dosis Pfizer
Selanjutnya, tidak makan daging hewan liar yang tidak dimasak dengan baik, menjauhkan diri sebisa mungkin dari pasien yang terinfeksi.
Bagi petugas medis, gunakanlah masker dan sarung tangan saat menangani orang yang sakit, lakukan cuci tangan yang baik dan benar setelah kontak dengan hewan atau manusia yang terinfeksi. (*)
(TribunnewsSultra.com/Amelda Devi Indriyani)