Opini

OPINI: Potret Petani Gurem Termarginalkan dan Peluangnya, Tantangan Pertanian di Indonesia

Masyarakat Indonesia agraris, mayoritas bekerja sebagai petani. Sektor ini masih menjadi mata pencaharian utama.

Editor: Risno Mawandili
Istimewa
Heriono merupakan mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian, Universitas Haluoleo, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara. Penulis opini potret oetani gurem termarginalkan dan peluangnya, tantangan pertanian di Indonesia. 

Penulis: Heriono, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Pertanian, Universitas Halu Oleo, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara.

TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Masyarakat Indonesia agraris, mayoritas bekerja sebagai petani. Sektor ini masih menjadi mata pencaharian utama.

Sektor pertanian diharapkan berperan meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani. Mendorong angka pertumbuhan kerja dan bisnis, meningkatkan gizi dan ketahanan pangan rumah tangga, serta mengentaskan kemiskinan di perdesaan.

Namun, sektor pertanian dan lapangan kerja primer mengindikasikan keterbatasan penyerapan tenaga kerja. Apalagi masuknya teknologi pertanian dan timbulnya berbagai pranata baru pengatur hubungan antar pemilik lahan dan hamba (penyakap, penyewa, dan buruh tani), membuat petani kecil semakin terdesak.

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, negara yang perekonomiannya bergantung atau ditopang oleh sektor pertanian.

Sebagai negara agraris, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, diprediksi dapat mendorong perekonomian negeri.

Tetapi, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019 menyatakan, 3 dekade terakhir sumbangan sektor pertanian terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) terus menurun.

Negara agraris juga memiliki arti negara yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian di sektor pertanian. Namun, tidak seperti itu di Indonesia. Kementerian Pertanian pada 2020, telah merilis data total petani di Indonesia saat ini hanya berjumlah 33,4 juta orang dari 270 juta total penduduk di Indonesia. Kondisi ini cukup disayangkan, fakta di lapangan tidak menunjukkan ciri negara agraris yang melekat di negeri ini.

Apalagi permasalahan yang kini dihadapi para petani tak kunjung berhenti. Mulai dari persoalan mengenai harga gabah yang tak berpihak kepada petani, hingga stigma negatif petani yang dianggap tak menjamin sukses di masa nanti.

Padahal kini yang menjadi petani sudah tidak muda lagi, jumlahnya pun sedikit. Tetapi politikus masih tega memanfaatkan kesederhanaan hidup petani, untuk dieksploitasi demi terciptanya figur publik yang baik hati.

Seharusnya para petani merasakan kemakmuran, kebahagiaan, dan keadilan. Petani adalah profesi yang mulia, harus dihormati. Karena berkat merekalah kita bisa makan. Tak perlu banyak peraturan dan perundang-undangan. Hanya kesejahteraan yang mereka butuhkan.

Pertanian yang belum optimal salah satunya ditenggarai belum optimalnya peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM), sehingga mempengaruhi keberlanjutan pelaksanaan pembangunan itu sendiri.

Baca juga: OPINI: Nikel Sultra Terhadap “Kesejahteraan” Ekonomi

Maju mundurnya suatu negara dan bangsa sangat ditentukan keunggulan kualitas dan daya saing SDM-nya. Terbukti, suatu negara mampu mencapai kesejahteraan dengan sumber daya alam (SDA) terbatas asalkan SDM-nya unggul.

Potret keadaan ini mendorong seluruh stakeholder memberikan perhatian dan dukungan kepada petani kecil. Terlebih kelompok petani yang tersisih tidak memiliki posisi tawar yang kuat, sehingga selalu menduduki predikat subsisten.

Halaman
1234

Ikuti kami di

AA
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved