Berita Kendari
Kasus DBD Bertambah Satu Orang, Dinkes Kendari Catat 184 Warga Terjangkit hingga Agustus 2022
Kasus meninggal akibat Demam Berdarah Dangue (DBD) di Kota Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra) bertambah, menjadi 184 kasus dari Januari hingga Agustus
Penulis: Amelda Devi Indriyani | Editor: Muhammad Israjab
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Kasus meninggal akibat Demam Berdarah Dangue (DBD) di Kota Kendari Sulawesi Tenggara (Sultra) bertambah.
Dinas Kesehatan Kota Kendari sebelumnya mencatat ada 4 orang yang meninggal akibat DBD sejak Januari hingga Juli 2022.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kota Kendari Ellfi, mengatakan penambahan satu kasus kematian akibat DBD ini terjadi pada 25 Agustus 2022 lalu.
Kasus tersebut terjadi di wilayah kerja Puskesmas Kemaraya, Kelurahan Lahundape. Dialami seorang pria berusia sekira 40 tahun yang diduga meninggal karena keterlambatan mendapat penanganan.
Baca juga: Dinkes Kendari Catat Kematian Karena DBD hingga Juli 2022 Sebanyak 4 Orang Dari 170 Kasus
"Sekarang menjadi 5 kasus, pasien laki-laki usia sekitar 40 tahun, meninggal di Rumah Sakit Bhayangkara dan diduga karena terlambatnya penanganan, mungkin masyarakat mengira ini hanya demam biasa," ujarnya, Rabu (7/9/2022).
Selain itu, jumlah warga Kendari yang terjangkit DBD juga meningkat, sebelumnya tercatat ada 170 kasus DBD dari Januari hingga Juli 2022.
Kini kasus DBD Bertambah menjadi 184 kasus dari Januari hingga Agustus 2022.
Di mana wilayah yang masih tinggi terjadinya kasus DBD yakni di Kecamatan Puuwatu dengan 40 kasus, disusul Kecamatan Baruga Puskesmas Lepo-lepo 26 kasus, dan Kecamatan Kendari Barat Puskesmas Kemaraya 25 kasus.
"Beberapa wilayah Puskesmas juga masih ada yang nol kasus," ujarnya.
Meski jumlah kasus perbulannya menurun, di mana pada Juli tercatat 15 kasus sedangkan di Agustus menurun jadi 14 kasus, Ellfi mengatakan tetap saja DBD harus diwaspadai.
Ia selalu mengingatkan masyarakat Kota Kendari untuk menerapkan dan memaksimalkan 3M Plus.
Baca juga: Angka Penyakit DBD di Kendari per Juni 2022 Capai 155 Kasus, Waspadai Perubahan Cuaca Eksrim
Yakni mengubur, menguras dan menutup wadah atau media yang menjadi sarang perkembangbiakan nyamuk, serta memakai lotion anti nyamuk.
Sebab hal itu dinilai lebih ampuh untuk menurunkan angka bebas jentik nyamuk di seluruh wilayah Kota Kendari.
Sedangkan penggunaan fogging, Ellfi menegaskan itu bukan menjadi salah satu jalan keluar untuk menurunkan angka DBD.
"Jika angka bebas jentik nyamuknya tinggi, maka potensi untuk terjadinya DBD itu pasti rendah karena yang kita berantas ini jentiknya agar tidak menjadi nyamuk dewasa, fogging hanya membunuh nyamuk dewasa, jentik tidak bisa mati," tegasnya.
(TribunnewsSultra.com/Amelda Devi Indriyani)