PLN UPDK Kendari

Pemilik CV Istacon Jaya Sebut Pemanfaatan Limbah Abu Batu Bara Tekan Biaya Produksi hingga 15 Persen

Sejumlah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM di Sulawesi Tenggara (Sultra) saat ini telah merasakan manfaat dari limbah abu batu bara.

Penulis: Muh Ridwan Kadir | Editor: Sitti Nurmalasari
TribunnewsSultra.com/ Muh Ridwan Kadir
PT Perusahaan Listrik Negara Unit Pelaksana Pengendalian Pembangkitan (PLN UPDK) Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menjalin kerja sama dengan CV Istacon Jaya, pada Rabu (3/8/2022). 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Sejumlah pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM di Sulawesi Tenggara (Sultra) saat ini telah merasakan manfaat dari limbah abu batu bara.

Salah satu pelaku UMKM yang merasakan manfaat Fly Ash and Bottom Ash (FABA) untuk pembuatan batako yaitu CV Istacon Jaya dengan pemiliknya bernama Ngadiman.

Ngadiman yang baru enam bulan merintis usaha pembuatan batako di Kecamatan Abeli, Kota Kendari, Provinsi Sultra telah menggunakan FABA sejak dua pekan lalu.

Ia mengatakan alasan memilih menggunakan limbah abu batu bara ini karena berdasarkan hasil uji coba yang timnya lakukan.

"FABA ini sangat bermanfaat sekali terutama untuk usaha yaitu pembuatan batako, di mana memang produksinya lebih berkualitas ketimbang menggunakan bahan lain," ucapnya, Rabu (3/8/2022).

Baca juga: Jalan di Desa Rapambinopaka Konawe Dibangun Pakai Limbah Abu Batu Bara, Bantuan PLN UPDK Kendari

Lebih lanjut, dalam hasil uji coba tersebut di samping berkualitas dari fisik yang terlihat batako dihasilkan tampak lebih pekat atau sedikit lebih gelap.

Bukan hanya itu, dari sisi fly ash atau abu terbang,  jika dibuat batako maka akan lebih keras atau daya rekatnya lebih baik.

"Kemudian, pemanfaatan FABA ini bisa menghemat ataupun menekan biaya produksi, tetapi dari segi operasional memang kami ambil sendiri tapi syukurnya limbah abu batu bara gratis," ungkapnya.

Ngadiman menjelaskan dengan pemanfaatan limbah abu batu bara ini dapat menekan biaya produksi hingga 15 persen, karena saat ini bersamaan bahan material terus melonjak naik.

Tentunya dengan biaya material yang tinggi dan guna memenuhi kebutuhan konsumen maka FABA menjadi jawaban yang tepat saat ini untuk menekan biaya produksi.

Baca juga: Pengrajin Asal Konawe Selatan Untung Jutaan Rupiah, Limbah Kayu Disulap Menjadi Sendal dan Sendok

"Saya juga mengucapkan rasa terima kasih banyak kepada PLN UPDK Kendari yang telah melakukan kerja sama dengan kami," ucapnya.

Ngadiman menambahkan untuk batako ukuran 18x38 per biji dibanderol di pasaran dengan harga Rp4.500.

Kata dia, dari sisi produksi dalam sehari CV Istacon Jaya memproduksi batako sebanyak 3.000 biji dan selama dua pekan ini dihasilkan sekitar 42.000 biji.

"Untuk penjualan sendiri dalam sehari itu kami bisa menjual sebanyak 1.000-2.000 biji batako," pungkasnya. (*)

(TribunnewsSultra.com/Muh Ridwan Kadir)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved