Jumat, 24 April 2026

Opini

Opini: Tantangan Perbankan Daerah

Bank Pembangunan Daerah (BPD) menjadi salah satu institusi perbankan lokal yang memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi utamanya di daerah.

Tayang:
Editor: Aqsa
zoom-inlihat foto Opini: Tantangan Perbankan Daerah
handover
Komisaris Bank Sultra dan Wakil Ketua Kadin Sulawesi Tenggara Bidang Perbankan, Laode Rahmat Apiti. 

Laode Rahmat Apiti
Komisaris Bank Sultra/ Wakil Ketua Kadin Sulawesi Tenggara Bidang Perbankan

TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Bank Pembangunan Daerah (BPD) menjadi salah satu institusi perbankan lokal yang memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi utamanya di daerah.

Perkembangan BPD sebagai Badan Usaha Milik Daerah pun tidak terlepas dari perkembangan ekonomi daerah.

Sejauh ini, kontribusi BPD dalam pembangunan daerah secara statistik pun makin menggembirakan.

Misalnya kerja sama pemerintah daerah untuk pembiayaan infrastruktur mempercayakan BPD sebagai mitra strategis-nya.

Baca juga: Opini: Pemuda Mengambil Peran Menuju Sultra Satu

Dalam beberapa tahun terakhir pula, kepercayaan masyarakat untuk bermitra dengan Bank BUMD semakin berkembang pesat.

Bangkitnya perbankan daerah tidak lepas dari kepedulian para pemegang saham baik itu pemerintah provinsi maupun pemerintah daerah (pemda) kabupaten/ kota.

Berbagai kebijakan inovatif para pemegang saham ditempuh agar perbankan daerah bisa lepas landas serta bisa bersaing dengan perbankan nasional dan swasta.

Apalagi, persaingan bisnis perbankan sangat dinamis sehingga butuh manajerial yang profesional dan pengelolaan yang jitu.

Dari tahun ke tahun pula produk bisnis perbankan tumbuh pesat serta makin variatif apalagi ditopang dengan teknologi informasi.

Ketua Bidang Perbankan Kamar Dagang dan Industri Sulawesi Tenggara (Kadin Sultra) Laode Rahmat Apiti.
Ketua Bidang Perbankan Kamar Dagang dan Industri Sulawesi Tenggara (Kadin Sultra) Laode Rahmat Apiti. (handover)

Dalam ranah inovasi teknologi untuk mendukung kinerja perbankan mengalami kemajuan yang pesat.

Setiap perbankan ‘menjual’ kelebihan fitur-fitur dan aplikasi yang digunakan untuk memanjakan nasabah serta meningkatkan kualitas pelayanan.

Tren ini harus direspon dengan cepat oleh perbankan lokal.

Bila telat beradaptasi melakukan inovasi bisa dipastikan akan mengalami stagnasi.

Digitalisasi Perbankan

Baca juga: Opini: Membangun Kualitas Revolusi Industri 5.0 Dalam Pengembangan SDM Desa di Sulawesi Tenggara

Digitalisasi perbankan beberapa tahun terakhir menjadi tren.

Berbagai inovasi teknologi ditawarkan perbankan untuk memudahkan pelayanan pada masyarakat.

Bank daerah sebagai pemain ‘utama’ di tingkat daerah harus fokus melakukan pembenahan dan inovasi untuk bisa bersaing dengan bank-bank raksasa.

Diakui atau tidak sebagian besar bank daerah mampu beradptasi dengan lingkunan perbankan kekinian.

Namun, sebagian juga masih jalan di tempat.

Komisaris Bank Sultra dan Wakil Ketua Kadin Sulawesi Tenggara Bidang Perbankan, Laode Rahmat Apiti.
Komisaris Bank Sultra dan Wakil Ketua Kadin Sulawesi Tenggara Bidang Perbankan, Laode Rahmat Apiti. (Handover)

Berbagai problematika yang menyelimuti perbankan lokal menjadi tantangan tersendiri bagi bank daerah untuk melakukan inovasi bisnis.

Persaingan yang makin kompetitif tidak bisa dihindari.

Dalam habitat perbankan semakin inovatif maka semakin berada di garda terdepan memimpin pasar.

Setiap perbankan lokal mengalami masalah yang berbeda dalam melakukan inovasi.

Namun, secara umum penulis menyimpulkan beberapa hambatan yang dialami perbankan daerah.

Baca juga: Opini: Membangun Kualitas Revolusi Industri 5.0 Dalam Pengembangan SDM Desa di Sulawesi Tenggara

Pertama, digitalisasi. Berbagai inovasi dilakukan perbankan untuk meningkatkan kepercayaan publik.

Digitalisasi pelayanan menjadi tren, berbagai produk layanan yang inovatif menjadi "jualan" perbankan untuk merebut pasar.

Digitalisasi sistem dan atau layanan harus direspon dengan cepat bila lamban maka secara perlahan-lahan akan ditinggalkan masyarakat.

Sebagian bank daerah ada yang merespon dengan cepat dan sebagian masih jalan di tempat dan atau tidak responsif terhadap perubahan.

Bagi bank lokal yang cepat menyadari pentingnya digitalisasi sebagai senjata utama untuk merebut pasar maka bisa bersaing dengan perbankan umum lainnya.

Baca juga: Opini: Tantangan Penjabat Bupati dan Buton Selatan Nantinya

Digitalisasi pelayanan mutlak dilakukan jadi sudah seharusnya perbankan lokal cepat beradaptasi bila tidak mau digilas oleh perkembangan jaman.

Kedua, kendala SDM.

Sumber daya manusia (SDM) faktor penting dalam perbankan.

Tanpa dukungan sumber daya manusia yang memadai maka berbagai perubahan akan direspon dengan lambat bahkan bisa ‘mandul’ dalam inovasi.

Selama ini, SDM bank daerah sebagian besar tidak kompetitif, konservatif selalu berada di zona nyaman.

Masuknya milenial dan perekrutan SDM yang selektif merupakan salah satu cara untuk membenahi kualitasi SDM.

Selain itu, cara yang ditempuh dengan meningkatkan kapasitas SDM dalam berbagai pelatihan dan atau training

Beberapa kendala di atas yang melingkari Bank BUMD tersebut butuh ‘terapi’ khusus’.

Sehingga ke depan kita berharap perbankan lokal makin bangkit dan memimpin pasar di daerahnya masing masing.

Berbagai masukan dan kritik konstruktif masyarakat untuk kemajuan bank lokal merupakan ‘vitamin’ untuk bergerak lebih cepat. Semoga.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved