OPINI

OPINI : Gejolak Harga Pangan, Kali Ini Berbeda

Gejolak (volatility) harga pangan di pasaran saat ini memang luput dari perkiraan sebelumnya.

Istimewa
Wasekjen DPP Pemuda Tani HKTI, Muhammad Irvan Mahmud Asia 

Oleh: Muhammad Irvan Mahmud Asia (Wasekjen DPP Pemuda Tani HKTI)

Gejolak (volatility) harga pangan di pasaran saat ini memang luput dari perkiraan sebelumnya. Anggapan demikian, hanya lebih cocok disematkan pada orang-orang yang ingatannya pendek.

Tengoklah masa lalu pada abad 20, setidaknya ada tiga periode di mana harga pangan melonjak cepat. Pertama, waktu Perang Dunia I.

Kedua, tepatnya 30 tahun kemudian, harga pangan kembali naik ketika sebagian besar negara masih dalam pemulihan pasca Perang Dunia II.

Ketiga, pada 1970-an ketika terjadi lonjakan kenaikan permintaan, cuaca ekstrem, naiknya harga minyak bumi dan gangguan-gangguan dalam perdagangan yang berakibat terjadinya gejolak harga pangan.

Itu juga terjadi di Indonesia. Bagaimana dengan abad 21 khususnya Indonesia? sama saja, terjadi gejolak harga seperti minyak goreng, jagung, beras, kedelai (tempe), telur, daging, cabai, dan lain-lain.

Dalam 3 bulan terakhir, masyarakat menengah ke bawah dibuat pusing tujuh keliling untuk mendapatkan pangan yang murah dan mudah sebagaimana minyak goreng langka dan mahal, kedelai langka, dan sebagainya.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Suatu yang berulang. Sebabnya adalah karena pelaku industri memperdagangkan derivatif komoditas.

Gejolak harga jelas mempengaruhi perekonomian Indonesia bukan saja secara mikro tetapi juga
dari sisi makro seperti inflasi.

Pada setiap kejadian kenaikan harga pangan, selalu diikuti pula dengan penurunan harga yang dalam.

Selama 100 tahun lebih, kecenderungan harga pangan dunia, setelah disesuaikan dengan inflasi memang mengarah pada pasar hasil pertanian dengan pola berulang, melonjak dan menukik.

Namun, kejadian demikian cenderung menjadi tetap sehingga menyiratkan makna adanya suatu penyebab yang sifatnya berulang.

Teorinya bahwa saat harga rendah, laju investasi di sektor pertanian ditahan. Keadaan ini menyebabkan produksi mandek, kadang terjadi kekurangan dalam jumlah besar dan harga naik.

Fenomena ini kemudian dijawab dengan investasi kembali masuk dengan membawa temuan teknologi baru atau setidaknya teknologi pertanian yang sudah eksisting dan menjadi ajang pemulihan keadaan karena keuntungan usaha pertanian kembali naik.

Halaman
123
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved