Suami Jual Istri untuk Layani Threesome, Pasang Tarif Rp 1,5 Juta Keliling Jawa Timur
Suami berinisial YW (35) itu menjajakan istrinya kepada pria hidung belang untuk melayani threesome di Kediri.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/ilustrasi-psk-atau-ilustrasi-prostitusi.jpg)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Seorang suami nekat menjual istrinya di Kota Kediri, Jawa Timur.
Pelaku adalah YW (35) berasal dari Mojoroto.
YW nekat menjual istrinya untuk melayani threesome alias berhubungan intim bertiga.
Baca juga: Istri Carikan Gadis ABG untuk Layani Suami, Alasan Suaminya Harus Threesome
Prostitusi ini disebarkan melalui media sosial Twiter.
Pasangan suami istri itu sudah tiga tahun menjalankan bisnis haram itu ke berbagai kota di Jawa Timur.
Aktivitas terlarang itu terbongkar, setelah Satreskrim Polres Trenggalek menangkap mereka saat beraktivitas di salah satu hotel di Kabupaten Trenggalek.
Saat ditangkap, pasangan suami istri itu tengah melayani hubungan badan bertiga dengan pelanggan mereka pada Selasa (14/9/2021).
Baca juga: Guru Olahraga Rudapaksa 3 Siswi SD di Perpustakaan, Modus Ajak Periksa Soal
Sang suami berinisial YW (35) ditangkap dan diterapkan sebagai tersangka kasus prostitusi online tersebut.
YW menawarkan layanan bertiga itu lewat media sosial Twitter.
Saat ada pelanggan, mereka akan menuju kota atau ke lokasi terdekat dari pelanggan.
Wakapolres Trenggalek, Kompol Heru Dwi Purnomo mengatakan, pasangan suami istri ini memang memiliki kelainan orientasi seksual.
Hal ini yang melatarbelakangi sang suami menawarkan sang istri untuk melayani hubungan badan bertiga.
Baca juga: 2 Tahun Tak Dilayani Istri Dijadikan Alasan Guru Honorer Rudapaksa Anak Kandung Umur 7 Tahun
Untuk tarif sekali kencan, sang suami mematok tarif Rp 1,5 juta.
"Dia senang kalau melihat istrinya berhubungan badan secara tidak normal, yaitu hubungan suami istri dengan tiga orang secara bersamaan,” kata Heru, saat jumpa pers, Jumat (17/9/2021).
Selain soal kelainan seksual, kata Heru, layanan itu juga dijajakan karena alasan ekonomi.