Kecelakaan Maut Mahasiswa UHO

Mahasiswanya Terlibat Kecelakaan Maut, Rektor UHO Prof Zamrun Merasa Sangat Kehilangan

Hamdan mengatakan, selaku Rektor UHO, Prof Zamrun tampak menangis ketika pertama kali mendapat informasi kejadian itu.

Penulis: Risno Mawandili | Editor: Laode Ari
Muhammad Ridwan Kadir/TribunnewsSultra.com
6 karangan bunga ucapan duka bagi para mahasiswa yang meninggal dunia seusai terlibat kecelakaan mobil di Bombana. Karangan bunga tersebut terpasang di areal parkiran gedung Program Pendidikan Vokasi (D3) Teknik Mesin. Selasa (8/6/2021). 

"Iya benar, kecelakaannya terjadi di Pertigaan Lameroro, di area persawahan," ujarnya lewat panggilan telepon.

Akibat kecelakaan tersebut 9 orang menumpangi mobil Toyota Avanza berwarna hitam menjadi korban.

Dimana, 5 mahasiswa meninggal dunia, 2 luka parah dan 2 lainnya luka ringan. Namun sebagaimana kita ketahui, setelah dirawat di rumah sakit, korban tewas bertambah 1 menjadi 6 orang.

Setelah kecelakaan para korban langsung dilarikan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Bombana.

Ban Bocor 80 Kilometer Per Jam

Salah satu mobil yang ditumpangi rombongan mahasiswa yang mengalami kecelakan di Pertigaan Ameroro, Kecamatan Rumbia, Kabupaten Bombana, Sultra, tampaknya sudah mengalami kendala.

Pasalnya, ban mobil Toyota Avanza yang ditumpangi 9 mahasiswa Program Pendidikan Vokasi UHO sudah pecah.

Ban mobil bocor sudah terjadi saat rombongan berada di tengah jalan.

Tepatnya di Kecamatan Punggaluku, Kabupaten Konawe Selatan (Konsel).

Salah seorang rekan korban selamat, Miner Lambiku (24), mengatakan, ban mobil pecah sempat diganti tapi ban serep tidak normal.

Kecalakaan maut mahasiswa UHO Kendari di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Senin (7/6/2021) sore. Peristiwa naas itu terjadi di Pertigaan Lameroro, Kecamatan Rumbia, Kecamatan Bombana, sekira pukul 17.00 wita.
Kecalakaan maut mahasiswa UHO Kendari di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara, Senin (7/6/2021) sore. Peristiwa naas itu terjadi di Pertigaan Lameroro, Kecamatan Rumbia, Kecamatan Bombana, sekira pukul 17.00 wita. (Istimewa)

Miner mengaku, telah mengingatkan untuk berhati-hati sebab ban seperti itu tidak tahan lama.

Miner menjelaskan, lingkaran ban serep mobil saat itu tidak seimbang karena benjolan dan kawat putus

"Bannya benjol, hati-hati saya bilang karena kawatnya putus, tinggal karetnya, rawan," beber Miner dihubungi melalui telepon.

Tampaknya peringatan dari Miner tak begitu berarti bagi mayoritas rombongan.

Memilih memaksakan ban serep rusak hingga sampai di pabrik gula di Kabupaten Bombana, sekira pukul 11.00 wita.

Halaman
1234
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved