Berita Sulawesi Tenggara

Jaringan Perempuan Pembela HAM: Tolak Tunjangan DPR hingga Setop Kekerasan Terhadap Pengunjuk Rasa

Berikut ini lengkap isi pernyataan sikap dari Jaringan Perempuan Pembela Hak Asasi Manusia (HAM). 

Ist
PERNYATAAN SIKAP -  Berikut ini lengkap isi pernyataan sikap dari Jaringan Perempuan Pembela Hak Asasi Manusia (HAM) atas kenaikan tunjangan DPR RI hingga kematian ojol Affan.  Jaringan tersebut merupakan perkempulan aktivis perempuan di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.  

TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Berikut ini lengkap isi pernyataan sikap dari Jaringan Perempuan Pembela Hak Asasi Manusia (HAM). 

Jaringan tersebut merupakan perkempulan aktivis perempuan di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. 

Termasuk aktivis perempuan yang ada di Sulawesi Tenggara (Sultra). 

Beberapa komunitas yang telah menandatangi pernyataan ini diantaranya berasal dari Sultra yakni Jaringan Perempuan Pesisir Sulawesi Tenggara (JPP SULTRA). 

Pernyataan ini dibuat imbas dari naiknya anggaran rumah anggota DPR RI sebesar Rp 3 juta per hari.  

Aksi demonstrasi pun terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia. 

Bahkan, salah satu insiden mengenaskan menimpa seorang pengemudi ojek online (ojol) Affan Kurniawan di Jakarta, yang terlindas rantis Brimob saat demonstrasi pada 28 Agustus 2025 terjadi memantik kemarahan publik. 

Atas hal tersebut, Jaringan Perempuan Pembela HAM yang telah ditandatangi lebih dari 30 perempuan Indonesia menyatakan sikap. 

Simak pernyataan sikap berikut ini yang diterima TribunnewsSultra.com, Jumat (29/8/2025): 

Baca juga: Profil Affan Ojol Tewas Dilindas Rantis Brimob, Usia, Anak ke-2 Andalan Keluarga, Pernah Jadi Satpam

Jaringan Perempuan Pembela HAM

Jumat, 29 Agustus 2025

Presiden RI dan DPR RI: Tolak Fasilitas dan Tunjangan DPR, Hentikan Kekerasan Terhadap Pengunjuk Rasa

Kematian Affan Kurniawan, seorang pengemudi ojek online yang sedang bekerja pada 28 Agustus 2025, adalah potret brutalitas polisi.

Di ruang publik yang saat itu dipenuhi massa aksi yang menuntut pencabutan fasilitas dan tunjangan DPR serta pemenuhan hak-hak buruh, Brimob hadir bukan untuk menjaga keamanan, melainkan untuk menghantam dan melukai. Akibat tindakan brutal itu, Affan yang bahkan tidak ikut aksi menjadi korban.

Tragedi ini menunjukkan bahwa ketika kekerasan dijadikan cara bernegara dan impunitas terus dibiarkan, siapa pun bisa jadi sasaran.

Oleh karena itu, Jaringan Perempuan Pembela HAM menyatakan sikap:

1. Kami mengecam keras tindakan Brimob yang mengemudikan mobil rantis dan melindas rakyat. Mobil itu dibeli dari uang pajak rakyat, uang yang seharusnya digunakan untuk melindungi kehidupan, bukan melukai. Aparat yang seharusnya melindungi, tetapi malah membuat rakyat takut. Kalau seorang pengemudi ojek online yang sedang bekerja saja bisa menjadi korban, siapa sebenarnya yang aman di negeri ini? Ketika aparat yang digaji dan dibiayai rakyat justru berbalik menjadi alat kekerasan, itu artinya menunjukkan secara terang-terangan sikap pengkhianatan, yaitu pengkhianatan terhadap amanat konstitusi, terhadap keadilan, dan terhadap rakyat.

Indonesia disebut sebagai negara demokratis ke-3 terbesar di dunia. Namun kenyataannya, rakyat yang bersuara malah dibungkam, padahal kritik adalah tanda kepedulian. Demokrasi ini ternyata masih milik segelintir orang yang berkuasa.

2. Jaringan PPHAM menuntut pertanggungjawaban penuh atas tindakan brutal ini. Kekerasan tidak bisa dinormalisasi. Kekuasaan tidak boleh kebal hukum. berdukacita atas jatuhnya korban jiwa Bernama Affan Kurniawan, serta seluruh masa aksi yang mengalami korban luka dan yang di tahan oleh aparat kepolisian. Kami mengecam dan mengutuk aksi repetitas dan brutalitas yang di lakukan aparat kepolisian sehingga menimbulkan korban jiwa saat aksi masa.

3. Mendesak Pemerintah dan Kapolri untuk mengusut tuntas kejadian ini secara transparan, menghukum pelaku tanpa tebang pilih, serta bertanggung jawab penuh kepada keluarga korban.

4. ⁠Proses hukum dan proses etik bagi Tim kepolisian yang melakukan penjagaan (yang memberikan perintah), saat berjalan nya aksi pembubaran harus bertanggungjawab sesuai hukum.

Yang bertanda tangan:

 1. Redy Saputro – Peace Leader Indonesia
 2. Nur Khotimah – Suara Perempuan Nusantara
 3. Julia Amiranda – YSMA Aceh
 4. Mutmainna – Jaringan Perempuan Pesisir Sulawesi Tenggara (JPP SULTRA)
 5. Sunarti Sudirman – FOSPAR Malut
 6. Yudith Sahureka – P3 IPPI Sulut
 7. Sri Rahayu – HAPSARI
 8. Ning Setiyani – Sekolah Perempuan Jakarta
 9. Elly Setiani – LPSDM NTB
 10. Institut KAPAL Perempuan
 11. Una Ahmad – Srikandi Sibela Halmahera Selatan
 12. Tulu’ul Fajriani – LPSDM
 13. Lembaga Pengembangan Sumber Daya Mitra – NTB
 14. Athy Julyati – LBH Perempuan dan Anak Morotai
 15. Pelita Padang
 16. Sobat KBB
 17. Novita Opki – Tong Pu Ruang Aman
 18. Paoziah – Sekolah Perempuan Lotim NTB
 19. Erliana Puspitasari – eQUALITA
 20. Rumah Edukasi Creative
 21. Tirta Dewi Mahayogi – Bali Sruti Denpasar
 22. Iwan – Bondowoso, Jatim
 23. Tika Sari – Peace Leader Jember
 24. Prima Bahren – Ketua JAKER (Jaringan Kebudayaan Rakyat Kota Kupang), Bendahara JAMAN (Jaringan Masyarakat Mandiri Provinsi NTT), Pembina Komunitas Perempuan Terdidik (KOMPUTER) Kota Kupang
 25. Sischa Rosa Linda Solokana – Aktivis GEDSI, Kota Kupang
 26. Fatimatys Zahra – Pusat Riset Ekologi, Religi, Nasionalisme dan Sosial Budaya Pati
 27. Sekolah Perempuan Sampang, Madura, Jatim
 28. Sekolah Perempuan Pondok Bambu, Jakarta
 29. KDS One Heart One Spirit – Sulut
30.  SOPAN Sumba
31. Sekolah Perempuan Kober Sumenep Jatim
32. ⁠Institut KAPAL Perempuan33.  Dina Tsalist Wildana (CHRM2)
34. Rizky Andrean De Hermawan - GENHAM RI
35.Citra Suar Indonesia
36.Siti Qomariah- Forum Pemberdayaan Perempuan NTB
37. Dewi Srikandi - Desbumi Jember
38. Kartini manakarra - Sulawesi Barat
39. Alfiyah IRT Depok Jabar
40. Arnima Bondowoso
41. ⁠LBH Perempuan dan Anak Morotai - Athy Julyati. (*)

(TribunnewsSultra.com)

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved