Dampak Perang AS dan Israel vs Iran Berimbas ke Harga Kondom, Biaya Produksi Melambung
Inilah dampak perang Amerika Serikat ( AS ) dan Israel vs Iran yang berimbas pada kenaikan harga produk.
Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Desi Triana Aswan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Foto-ilustrasi-alat-kontrasepsi-kondom.jpg)
Perang di Timur Tengah ini, tak hanya berdampak pada Karex.
Namun sejumlah brand lainnya yang juga menjadi pemasok utama alat kontrasepsi seperti Durex dan Trojan.
Tak hanya sektor komersial, Karex juga menyuplai kebutuhan sistem kesehatan negara seperti NHS di Inggris, serta berbagai program bantuan kemanusiaan global yang dikelola oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Langkah Karex untuk menaikkan harga menambah daftar panjang perusahaan manufaktur, termasuk produsen sarung tangan medis, yang kini bersiap menghadapi kemacetan rantai pasok.
Perang Iran telah menekan arus energi dan petrokimia dari Timur Tengah, yang secara otomatis mengganggu pengadaan bahan baku industri.
Biaya Produksi Melambung
Goh menjelaskan bahwa sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu, Karex harus menanggung kenaikan biaya produksi di hampir seluruh lini.
Kenaikan mencakup bahan karet sintetis dan nitril untuk bahan baku kondom, hingga material pengemasan dan pelumas seperti aluminium foil serta minyak silikon.
Meskipun biaya operasional meningkat, Goh memastikan bahwa Karex masih memiliki pasokan yang cukup untuk beberapa bulan ke depan.
Perusahaan juga berupaya menggenjot hasil produksi demi memenuhi permintaan global yang terus tumbuh.
Kekhawatiran akan kelangkaan produk muncul setelah stok kondom dunia merosot tajam menyusul pemotongan besar-besaran anggaran bantuan luar negeri, terutama oleh Badan Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) pada tahun lalu.
Di awal tahun 2026 sendiri, permintaan kondom tercatat melonjak sekitar 30 persen.
Namun, masalah distribusi di jalur laut semakin memperparah kondisi kekurangan stok di berbagai belahan dunia.
Pengiriman produk Karex ke tujuan utama seperti Eropa dan Amerika Serikat kini memakan waktu hampir dua bulan, dua kali lipat lebih lama dibandingkan durasi normal yang biasanya hanya memakan waktu satu bulan.
"Kami melihat lebih banyak kondom sebenarnya tertahan di kapal-kapal yang belum tiba di tujuan namun sangat dibutuhkan," kata Goh.
Ia menambahkan bahwa banyak negara berkembang saat ini tidak memiliki stok yang memadai karena hambatan waktu pengiriman tersebut. (*)
(TribunnewsSultra.com/Desi Triana) (Tribunnews.com/Bobby)