Tunjangan DPR Diduga Jadi Cikal Bakal Kemarahan Publik Berujung Demo hingga Kematian Ojol Affan
Bagaimana kemarahan publik memuncak berujung pada demo yang tak kunjung reda ini?
Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Desi Triana Aswan
“Tolong jangan mikirin perutnya sendiri lah. Enak banget kan gajinya naik, padahal itu juga kan dari kita (pajaknya),” ujar Ari dikutip Kompas.com.
Kemarahan bukan semata soal nominal tunjangan DPR, melainkan soal rasa keadilan dan empati sosial yang dianggap hilang dari wakil rakyat.
Banyak publik yang menggaungkan untuk membubarkan DPR.
Namun deretan respon dari para wakil rakyat justru membuat publik semakin geram.
Sampai mereka (wakil rakyat) meralat ucapannya kembali.
Berikut enam anggota DPR RI yang mengeluarkan pernyataan kontroversial, beserta klarifikasinya yang dihimpun Tribunnews.com:
1. Adies Kadir – Wakil Ketua DPR RI
“Saya kira make sense lah kalau Rp50 juta per bulan.” Disampaikan di Senayan, 19 Agustus 2025.
Adies membela besaran tunjangan dengan logika biaya kos Rp3 juta per hari kerja.
“Kalau Rp3 juta dikali 26 hari kerja, berarti Rp78 juta. Jadi kalau terima Rp50 juta, mereka masih nombok.”
Klarifikasi: Ia menyebut tunjangan Rp50 juta sebagai kompensasi atas penghapusan rumah dinas dan menegaskan tidak ada kenaikan gaji.
2. Ahmad Sahroni – Wakil Ketua Komisi III DPR RI (saat itu)
“Mental manusia yang begitu adalah mental orang tertolol sedunia.”
Disampaikan di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, 20 Agustus 2025. Pernyataan ini viral dan memicu kemarahan luas.
Sahroni kemudian dicopot dari jabatannya dan dipindahkan ke Komisi I oleh partainya meski pemindahan itu bukan disebabkan pernyataan kontroversialnya.
Klarifikasi: Belum ada permintaan maaf terbuka. Dalam wawancara terbatas, ia menyatakan ucapannya tidak ditujukan untuk rakyat secara umum.
3. TB Hasanuddin – Anggota Komisi I DPR RI
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.