Berita Kendari
3 Komunitas di Kendari Tingkatkan Pemahaman Kesehatan Mental Lewat Menulis, Melukis, Diskusi Publik
Komunitas di Kota Kendari, bekerja sama meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kesehatan mental melalui menulis, melukis, dan diskusi publik.
Penulis: Dewi Lestari | Editor: Sitti Nurmalasari
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/3-Komunitas-di-Kendari-Tingkatkan-Pemahaman-Kesehatan-Mental-Lewat-Menulis-Melukis-Diskusi-Publik.jpg)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Tiga komunitas di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), bekerja sama meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kesehatan mental melalui kegiatan menulis, melukis, dan diskusi publik.
Ketiga komunitas tersebut yakni Kelas Arrowsia, Kendari Book Party, dan Book Scape Kendari.
Kolaborasi ini dikemas dalam kegiatan bertajuk Generasi Berdaya 2025.
Kegiatan berlangsung di Perpustakaan Modern Sultra, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia, Selasa (29/12/2025).
Acara yang didukung Indonesia Hidden Heritage Creative Hub (IHHCH) ini diikuti peserta dari berbagai usia dan latar belakang.
Baca juga: Tips Jaga Kesehatan Mental Dibagikan Dosen Psikologi UHO Kendari Sultra, Olahraga Salah Satunya
Ketua Panitia Generasi Berdaya 2025, Brigitta Shelly Zahara, mengatakan kegiatan ini dibuat sebagai ruang yang aman dan terbuka agar peserta berani menyampaikan perasaan.
Memahami kondisi mental diri sendiri, serta saling berbagi pengalaman.
“Kami ingin peserta merasa aman untuk bercerita dan sadar bahwa masalah kesehatan mental bisa dialami siapa saja,” ujarnya kepada Tribunnewssultra.com.
Generasi Berdaya 2025 diisi dengan lomba menulis esai personal tingkat nasional, kelas menulis daring, workshop melukis rasa, serta diskusi publik.
Dari lomba menulis esai, terkumpul berbagai tulisan nonfiksi dari sejumlah daerah di Indonesia yang membahas stigma kesehatan mental dalam kehidupan sehari-hari.
Baca juga: Tarif Layanan Konseling Kesehatan Mental Secara Online dan Offline di Kendari Sulawesi Tenggara
Menurut Brigitta, menulis menjadi kegiatan yang paling berdampak, karena peserta bisa jujur pada diri sendiri dan mengungkapkan perasaan yang selama ini dipendam.
“Banyak peserta baru menyadari kondisi mentalnya setelah menuliskannya. Melukis membantu mereka menyalurkan emosi, sedangkan diskusi membuat mereka merasa tidak sendirian,” katanya.
Brigitta menyampaikan isu yang paling sering muncul dalam tulisan peserta adalah kelelahan mental akibat tekanan ekonomi, masalah keluarga, tuntutan sosial, serta perasaan harus selalu terlihat baik-baik saja.
Banyak peserta juga menuliskan rasa sepi dan tidak memiliki tempat aman untuk bercerita.
Hal ini menunjukkan masih kuatnya stigma kesehatan mental di masyarakat, sehingga banyak orang memilih memendam masalahnya.
Baca juga: Tips Menjaga Kesehatan Mental Dibagikan Lewat Talkshow Hari Ibu Digelar SALIMAH, SIM, IPEMI Kendari
| Cara Mengatasi Gangguan Kesehatan Mental Dibagikan Konselor di Kendari Sulawesi Tenggara, Penyebab |
|
|---|
| OPINI Dilema Kesehatan Mental Ibu Pasca Persalinan: Antara ASI, Bayi dan Harmonisasi Keluarga |
|
|---|
| RSJ Kendari Sulawesi Tenggara Ungkap Kondisi Kesehatan Mental Pelaku Pembunuhan Sopir Taksi Online |
|
|---|
| Cara Penanganan Kesehatan Mental Dibagikan Mahasiswa Pendidikan Profesi Apoteker UHO Kendari Sultra |
|
|---|
| Ramai Kasus Akhiri hidup di Kalangan Remaja, Guru dan Orangtua Wajib Paham Literasi Kesehatan Mental |
|
|---|