Harga Emas
Prediksi Harga Emas Antam 3 Oktober 2025, Bakal Turun Lagi Kisaran Rp1.000-2.000, Penyebabnya?
Ditarik dalam sepekan terakhir, harga emas Antam bergerak di rentang harga Rp2.171.000 hingga Rp2.237.000 per gram.
Penulis: Muhammad Israjab | Editor: Muhammad Israjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Harga-emas-Antam-prediksi-3-Oktober-2025.jpg)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Tercatat harga emas batangan PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam tercatat mengalami penurunan tipis, Kamis (2/10/2025).
Penurunan ini mengakhiri tren kenaikan harga emas, sempat mencetak rekor tertinggi beberapa pekan terakhir.
Untuk ukuran 1 gram, harga emas Antam hari ini dibanderol Rp2.235.000, turun Rp2.000 dari harga sebelumnya Rp2.237.000.
Baca juga: Sosok Yasir, Mahasiswa UHO Kendari Raih Medali Emas Pencak Silat di Pomnas 2025 Jawa Tengah
Ukuran emas 0,5 gram dijual seharga Rp1.167.500, mengalami penurunan Rp1.000 dibandingkan hari sebelumnya.
Harga emas ukuran 5 gram tercatat Rp10.950.000, sementara 10 gram dibanderol Rp21.845.000.
Untuk ukuran lebih besar 25 gram dijual Rp54.487.000, emas 50 gram Rp108.895.000, dan 100 gram Rp217.712.000.
Emas ukuran jumbo 500 gram ditawarkan Rp1.087.820.000, sedangkan 1.000 gram (1 kg) dibanderol Rp2.175.600.000.
Harga jual kembali (buyback) juga mengalami penurunan Rp2.000, menjadi Rp2.082.000 per gram.
Jika ditarik dalam sepekan terakhir, harga emas Antam bergerak di rentang Rp2.171.000 hingga Rp2.237.000 per gram.
Baca juga: Harga Emas di Kendari Sulawesi Tenggara 30 September 2025: Naik Rp20 Ribuan per Gram, UBS Rp2,2 Juta
Sebulan terakhir, pergerakan harga emas kisaran Rp1.978.000 hingga Rp2.237.000 per gram, menunjukkan tren naik mulai terkoreksi.
Penurunan harga hari ini terjadi setelah emas dunia menyentuh rekor tertinggi USD3.895,09 per ons pada Rabu, pada 1 Oktober 2025.
Harga emas global kemudian terkoreksi tipis menjadi USD3.861 per ons, dipengaruhi penguatan teknikal dan aksi ambil untung.
Kenaikan sebelumnya didorong melemahnya Dolar AS, dan meningkatnya permintaan aset safe haven akibat penutupan pemerintahan Amerika Serikat.
Data ketenagakerjaan AS yang lemah, juga memperkuat ekspektasi Federal Reserve akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat.
Melemahnya dolar membuat harga emas lebih terjangkau, bagi pembeli luar negeri, mendorong lonjakan permintaan.