Jumat, 24 April 2026

Rektor UHO Kendari Wafat

Dari Kuli Panggul Ikan di Jepang hingga Rektor UHO Kendari, Inspirasi Kisah Perjuangan Prof Armid

Rektor UHO Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Prof Armid meninggal, hanya menjabat 23 hari setelah dilantik pada 1 Agustus 2025 lalu.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Sugi Hartono | Editor: Muhammad Israjab
zoom-inlihat foto Dari Kuli Panggul Ikan di Jepang hingga Rektor UHO Kendari, Inspirasi Kisah Perjuangan Prof Armid
Dok TribunnewsSultra/Istimewa
REKTOR UHO KENDARI - Jejak karir pendidikan Prof Armid resmi dilantik Rektor Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Jumat (1/8/2025) lalu, menggantikan Prof Muhammad Zamrun Firihu. 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Dunia pendidikan Sulawesi Tenggara berduka atas kepergian Prof Armid, sosok Rektor Universitas Halu Oleo atau UHO Kendari 2025-2029.

Meski duka menyelimuti kepergian salah satu putra terbaik Sultra ini, kisah inspiratifnya masih membekas bagi banyak orang.

Kisah yang memberi teladan termasuk bagi mahasiswa dan alumni selepas kepergiannya untuk selama-lamanya.

Rektor UHO ini berpulang, Sabtu (23/08/2025) malam, meninggalkan berbagai kisah bagi mahasiswa yang pernah dibinanya.

Kisah itu salah satunya membekas bagi Nova Ade Firmanto.

Sosok alumni Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam atau F-MIPA UHO angkatan 2014.

Menurut Nova, Prof Armid merupakan sosok dosen yang sangat rendah hati, memiliki pendekatan unik dalam mengajar mahasiswanya.

Baca juga: Momen Kedatangan Putra Rektor UHO Kendari Prof Armid, Tangis Pecah, Berlarian Masuk Rumah Duka

Sebagai dosen mata kuliah Geokimia dan Wawasan Kemaritiman, ia tidak hanya mengandalkan teori.

Tetapi juga mengajak mahasiswa langsung terjun ke lapangan, sehingga ilmu yang didapat lebih aplikatif.

Ada satu cerita paling berkesan dan sering diceritakan Prof Armid sendiri ke mahasiswanya.

Yakni kisah perjuangannya saat menempuh pendidikan magister atau S2 di Jepang.

Selepas menyelesaikan studi sarjana di Universitas Hasanuddin (Unhas), Prof Armid bersama istri, Dr Fahmiati, mendapatkan beasiswa S2.

Diapun melanjutkan pendidikannya di Negeri Sakura tersebut.

Perjuangan mereka di Jepang tidaklah mudah.

Untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya selama studi, Prof Armid tidak ragu mengambil pekerjaan serabutan.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved