OPINI: “Pesantren Undercover : Refleksi Hari Santri”
Tulisan ini mengulas berbagai fenomena yang seringkali terjadi di lingkungan pesantren.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Ibnu-Azka.jpg)
Oleh : Ibnu Azka
(Master Komunikasi dan Masyarakat Islam)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM- Tulisan ini mengulas berbagai fenomena yang seringkali terjadi di lingkungan pesantren. Sebagai awalan, ulasan ini mendisclaimer bahwa diksi pesantren tidak menggeneralisir semua lingkungan pesantren, melainkan menyajikan beragam fakta lain dibaliknya.
Pesantren, pada dasarnya adalah tempat pendidikan agama dan moral yang bertujuan untuk membentuk karakter yang baik. Namun, seperti halnya institusi lain, ada individu yang mungkin terlibat dalam perilaku-perilaku yang dapat melanggar aturan-aturan yang sudah menjadi ketetapan di setiap lingkungan pendidikan termaksud pesantren itu sendiri.
Menjamur serta berkembanganya sistem pendidikan di lingkungan pesantren, banyak memantik orang tua untuk mendaftarkan anak-anak mereka di pesantren dengan tujuan untuk mendalami ilmu, terutama dalam bidang agama. Pesantren dianggap mampu membentuk karakter karena diajarkan bagaimana menjadi pribadi yang mandiri, sopan, rajin, disiplin, sholeh serta mampu menjadi teladan nantinya.
Selain itu, lingkungan pesantren dianggap mampu membentuk solidaritas antar sesama karena para santri maupun santriwati berasal dari daerah dan latar belakang suku yang berbeda, hal itulah yang membuat semakin tingginya animo orang tua untuk melepaskan anak-anaknya di lingkungan pesantren. Sejalan dengan beragam persepsi terhadap pesantren tersebut, konon penjara suci itu menyimpan sejuta memori gelap.
Istilah "berjamaah" dalam konteks pesantren ternyata tidak sekadar merujuk pada kegiatan ibadah bersama, melainkan juga mencakup aspek negatif yang sering terjadi dalam lingkungan pesantren. Data yang dihimpun oleh Komnas Perempuan per 27 Oktober 2021 mengungkapkan bahwa pesantren menduduki peringkat kedua setelah kampus dalam hal kasus pelecehan dan kekerasan seksual. Kasus-kasus ini tidak hanya melibatkan sesama santri, tetapi juga melibatkan pimpinan pondok pesantren sendiri dan berlangsung dalam jangka waktu yang cukup lama, yang bahkan mengakibatkan beberapa santriwati mengalami kehamilan.
Jika ditelusuri lebih jauh kita semua akan dibuat kaget, faktanya tingkat kriminalitas dalam konteks kekerasan seksual di lingkungan pesantren lebih beragam dibandingkan lingkungan pendidikan lainnya. Tidak hanya itu, kasus lainnya seperti mencuri sesama santri juga kerap terjadi, hal itu bisa dilihat dengan pakaian yang dikenakan kebanyakan santri, setidaknya memiliki bordiran sebagai antisipasi dari banyaknya kasus curi mencuri baik itu pakaian, makanan, alat mandi bahkan Al-Qur’an sekalipun menjadi sasaran.
Baca juga: OPINI: Tantangan Implementasi Delapan Agenda Strategis Pj Gubernur Sulawesi Tenggara
Aksi kekerasan fisik juga menjadi budaya yang sampai hari ini masih konsisten dilakukan, budaya senioritas yang berujung kriminalitas nampak tak berkesudahan. Bagi santri ini lumrah sebagai langkah untuk mendidik junior agar taat dan patuh pada senior, santri-santri yang baru saja dititipkan oleh orang tuanya dengan harapan dapat belajar dengan baik seringkali mendapat intervensi dari senior yang haus penghormatan. Parahnya, kebiasaan buruk itu justru turun-temurun akibat santri senior yang tidak bertanggungjawab sebelumnya.
Kebiasaan-kebiasaan lainnya yang seharusnya tidak terjadi di lingkungan pesantren justru seperti hal yang lumrah, seperti santri yang merokok, mencuri sendal, terlibat perkelahian, bolos kelas, sampai melakukan aksi bullying terhadap teman tidak dapat terelakkan lagi. Istilah pacaran syar’I pun menjadi trend para santriwan dan santriwati untuk melegitimasi kebatilan dengan label islami agar terdengar sejuk di telinga sekalipun itu sebuah larangan.
Parahnya lagi di lingkungan pesantren juga menjadi sasaran untuk melakukan transaksi narkotika, bahkan hal itu pernah terjadi di pesantren Blitar, Jawa Timur. Lebih dari itu, kasus-kasus seperti nonton film pornografi kerap menjadi destinasi para santri di lingkungan pondok bahkan di dalam masjid yang
menjadi tempat beribadah. Lantas dari beberapa fakta dibalik itu semua, masihkah pesantren menjadi tempat yang aman dan tepat untuk mempelajari agama ?
Oleh sebab itu, pesantren harus berbenah. Prioritas utama tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada pembentukan karakter dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) bagi para pendidik melalui proses yang ketat. Selain aspek spiritualitas, moralitas juga harus diperkuat melalui tindakan nyata yang dilakukan oleh para pengasuh pesantren. Penting juga untuk melaksanakan program pendidikan, kesadaran, dan pencegahan mengenai bahaya pelecehan seksual, narkotika, perundungan, pertengkaran, dan jenis tindakan kriminalitas lain yang amoral. Semua ini dapat diperkuat melalui kerja sama dengan pihak berwenang setempat, termasuk kepolisian, untuk memastikan penegakan hukum yang efisien dan responsif.
“Pesantren bukanlah bengkel, dan Santri bukanlah sekelompok Nabi”
Al-Azka
Profil Singkat Penulis :
Nama lengkap Ibnu Azka, biasa dipanggil Azka. Dapat dihubungi melalui
Email : ibnuazka00@gmail.com
No Wa : 082349662600
(*)