Gelombang Panas di India di Luar Perkiraan Ilmuwan, Ini Penyebab hinga Dampaknya
Fenomena gelombang panas India telah yang merenggut belasan nyawa. Per Jumat (28/04/2023), sebanyak 17 orang dilaporkan meninggal dunia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/28042023-India.jpg)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Fenomena gelombang panas India telah yang merenggut belasan nyawa.
Per Jumat (28/04/2023), sebanyak 17 orang dilaporkan meninggal dunia akibat heatwave India tersebut.
Rupanya, suhu panas India yang disebabkan oleh perubahan iklum secara alamiah tersebut di luar perkiran para ilmuan setempat.
Peneliti Klimatologi di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Erma Yulihastin mengatakan, peristiwa India alami suhu panas ekstrem tak pernah terproyeksi oleh model iklim.
Keadaan tersebut membuat para ilmuan India dan Pakistan dihujani kritik oleh pengambil kebijakan dan publik.
"Tidak pernah terduga sebelumnya bahwa wilayah monsun seperti India yang mirip dengan Indonesia bakal mengalami heatwave," ujarnya melalui cuitan di akun Twitter pribadinya, @EYulihastin, Jumat (28/4/2023).
"Ini menandakan efek perubahan iklim terhadap kejadian panas ekstrem terjadi lebih cepat dari perkiraan ilmuwan," sambung tulis Erma.
Baca juga: Video Viral Kakek Menanti Anak Cucu di Teras Rumah Bikin Haru, Lambaikan Tangan Saat Mobil Datang
Dalam cuitannya, Erma pun menampilkan cuplikan wawancaranya dengan radio Elshinta.
Dia menyebut gelombang panas di India telah menyebabkan 17 orang meninggal dunia.
"Ada yang meninggal juga, sekitar 17 orang. Ilmuwannya itu dikritik. Kenapa ilmuwannya dikritik? Karena tidak ada satupun ilmuwan yang menjelaskan ini akan naik sebegini parah," bebernya.
"Jadi mereka selalu bilang India tidak akan kena heatwave yang parah, itu hanya akan berhenti di China, daratan yang lebih utara," jelasnya.
Dia menambahkan, para ilmuan setempat selalu meredam kekhawatiran warga dengan keyakinan, bahwa heatwave tak akan terjadi.
"Artinya sudah sampai seperti itu, karena selalu diredam bahwa ini tidak akan terjadi, hanya akan kecil," katanya.
"ini berarti ada problem, konsep perubahan temperatur lebih cepat," lanjutnya.
Erma pun menjelaskan, onset heatwave yang biasa terjadi di puncak musim panas (Juli-Agustus) akan datang lebih capat.