Berita Buton Utara
ATN Indonesia Mineral Investasi Rp3,5 T Bangun Pabrik Nikel di Butur Didukung Pemkab Buton Utara
Pemerintah Kabupaten Buton Utara (Pemkab Butur) mendukung penuh pembangunan pabrik nikel kelas satu di daerah tersebut.
Penulis: Muh Ridwan Kadir | Editor: Sitti Nurmalasari
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Pemerintah Kabupaten Buton Utara (Pemkab Butur) mendukung penuh pembangunan pabrik nikel kelas satu di daerah tersebut.
Seperti diketahui, pembangunan kawasan pabrik nikel di Butur, Sulawesi Tenggara (Sultra) diinisiasi oleh PT About The Nickel (ATN) Indonesia Mineral.
Lokasi pembangunannya bertempat di Desa Kurolabu, Kulisusu Utara, Buton Utara, Sulawesi Tenggara dengan luas lahan 300 hektar.
Rencana pembangunan ini mendapat respons baik dari tingkat Pemerintah Daerah maupun Pemerintah Pusat, sebagai upaya dalam mendukung ramah lingkungan.
Bupati Buton Utara, Ridwan Zakariah mengatakan pembangunan kawasan pabrik nikel kelas satu ini sudah masuk dalam tahapan awal termasuk izin lokasinya.
Baca juga: Pabrik Nikel Segera Dibangun di Buton Utara, PT ATN Indonesia Mineral Bakal Serap 1.000 Tenaga Kerja
Tentunya, tahapan berikutnya masih ada seperti terkait izin lainnya dari kementerian atau lembaga terkait guna mendukung pembangunan pabrik nikel tersebut.
"Kami tentunya sangat mendukung dengan adanya pembangunan pabrik nikel ini dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, terlebih untuk kesejahteraan masyarakat," ujarnya, Senin (5/12/2022).
Berdasarkan informasi yang diperoleh, pabrik nikel tersebut menerapkan teknologi terbarukan yang berdampak baik kepada lingkungan.
Karena katanya, masalah terbesar yang dihadapi oleh pabrik saat ini adalah permasalahan limbah lingkungan.
"Untuk itu, kita hindari pencemaran lingkungan bahkan jika bisa sampai nol persen, dan kalau teknologi itu diterapkan maka itu sangat bagus sekali," imbuhnya.
Baca juga: Pabrik Smelter Nikel di Pomalaa Sultra Mulai Dibangun, PT Vale Bakal Serap 12 Ribu Tenaga Kerja
Di sisi lain, pembangunan pabrik nikel ini tentunya akan menyerap ribuan tenaga kerja di daerah setempat.
Menurutnya, dengan adanya pembangunan pabrik nikel ini, maka pemerintah bisa menyerap tenaga kerja dan masyarakat memiliki kesempatan dalam mendapatkan pekerjaan.
"Jadi mereka tidak perlu jauh lagi merantau untuk mencari pekerjaan, karena adanya pabrik nikel di Butur. Semoga secepatnya pabrik nikel ini bisa dibangun," pungkasnya.
Bangun Kerja Sama
Project Director PT ATN Indonesia Mineral, Alman Susmanto mengatakan sudah membangun kerja sama global dengan beberapa perusahaan kemitraan.
Baca juga: Pembangunan Pabrik Smelter Nikel HPAL di Pomalaa Kolaka Dimulai, Menko Luhut Sebut Produksi Terbesar
Katanya, hal itu guna membangun pabrik nikel kelas satu sebagai bahan utama baterai kendaraan listrik serta bahan turunan lainnya yang memiliki nilai ekonomis tinggi.
"Melihat perkembangan beberapa pabrik di Indonesia termasuk Sultra, selama ini lebih banyak hanya mengolah nikel jadi nickel pig iron dan ferronickel, lalu diturunkan jadi stainless stell, lainnya," jelasnya.
Alman menambahkan sementara itu, pabrik nikel bernilai tinggi seperti mixed hydroxide precipitate (MHP) atau mixed sulphide precipitate (MSP) yang digunakan untuk menjadi prekursor atau katoda.
Lalu, prekursor itu yang akhirnya menjadi baterai kendaraan listrik, yang mana masih belum banyak berdiri di Indonesia.
Kata dia, perusahaan memilih akan membangun dan mengoperasikan pabrik pengolahan nikel sesuai terobosan technology Monolith Co., Ltd., Monolith Advanced Clean Hydrometallurgy (MACH).
Baca juga: Presiden Jokowi Bakal Tinjau Pabrik Aspal Buton, Kadin Sultra Harap Kepala Negara Keluarkan Keppres
"Jadi pilihan ini kami ambil, setelah melakukan studi dari teknologi pengolahan nikel yang ada," ujar Alman Susmanto.
Katanya, teknologi terbarukan pertama di Indonesia tersebut untuk memproduksi produk bernilai tinggi seperti Nickel Hydroxide, Crude Fe-Ni, Magnesium Oxide, Silica, dan lainnya.
Karena melalui teknologi ramah lingkungan, tanpa terak, tanpa limbah cairan yang keluar, teknologi yang sangat aman dari sisi ekologi, dengan tidak menggunakan tekanan tinggi, dan lainnya.
Kemudian, jelas Alman Susmanto, dari segi ekonomi CAPEX dan OPEX jauh lebih rendah dari fasilitas peleburan lainnya.
"PT ATN Indonesia Mineral, sangat sadar dan mendukung program Pemerintah Indonesia yang telah melarang ekspor mineral non-olahan," tuturnya.
Baca juga: Proyek Pembangunan Pabrik Baterai 1.700 Hektare di Kendari Batal? Penjelasan Wali Kota Sulkarnain
"Di mana larangan itu untuk mencegah keluarnya sumber daya alam mineral melalui ekspor barang mentah, dan berharap adanya pengembangan industri lokal," tambah Alman.
Sejauh ini, Industri Ferronickel, Nickel Pig Iron tumbuh dengan mantap, dan beberapa daerah juga telah mulai pabrik pengolahan nikel untuk baterai sekunder, ESS dan sebagainya.
Dengan adanya teknologi ini, sangat selaras dengan harapan pemerintah untuk mendukung teknologi biaya rendah, efisiensi tinggi ramah lingkungan bagi masyarakat Indonesia.
"PT ATN Indonesia Mineral dan rekanan, berencana akan membangun pabrik di wilayah Buton Utara, Sulawesi Tenggara, dengan nilai investasi awal sebesar USD 200 juta atau sekitar Rp3,5 triliun," imbuhnya.
Alman mengatakan rencana pembangunan pabrik nikel ini telah mendapatkan dukungan penuh pemerintah.
Baca juga: Rencana Terra Paradisaea Bangun Pabrik Baterai dan Baja di Kolut, Ali Mazi: Saya Bantu Kalau Serius
Hal tersebut tertuang dalam Surat Keputusan Bupati Buton Utara, tentang Persetujuan Investasi No 640/882/VIII/2021.
Selain itu, ia menjelaskan alasan memilih lokasi di Butur untuk pembangunan pabrik nikel yakni karena daerah baru berkembang sehingga butuh investasi guna mendongkrak pertumbuhan ekonomi lokal.
"Jadi, pembangunan pabrik ini direncanakan setelah adanya izin dari Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional tentang status lahan pada Desember 2022," kata dia.
Lanjutnya, setelah adanya izin tersebut, maka PT ATN Indonesia Mineral akan membangun jetty di sekitaran kawasan pabrik sebagai pintu masuk operasional.
Untuk pembangunan ini diperkirakan akan berjalan 1 tahun 6 bulan, dan paling lama 2 tahun dengan masa uji coba selama 6 bulan.
Baca juga: Rencana Pembangunan Pabrik Baterai di Abeli, Pemkot Kendari Proses Perizinan Lahan dan RTRW
Tahap awal pembangunan dengan luas lahan seluas 300 hektar dapat menampung enam tenan atau pabrik, dengan satu tenan memiliki luas bangunan 50 hektar.
"Untuk pengembangannya nanti sekitar totalnya 700 hektar, tetapi harus melihat lagi mana kawasan yang bisa atau tidak untuk menjadi proyek pengembangan," ungkapnya.
Sementara itu, dalam mendukung kesejahteraan masyarakat sekitar, PT ATN Indonesia Mineral bakal menyerap sebanyak 1.000 tenaga kerja.
"Ke depannya apabila telah dilakukan pengembangan pembangunan akan menyerap 2.000 tenaga kerja," pungkasnya.
Informasi tambahan, Selasa, 29 November 2022, PT ATN Indonesia Mineral telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan mitra perusahaan.
Baca juga: Resmikan Pabrik Smelter di Morosi Konawe, Presiden Jokowi Larang Ekspor Nikel, Apresiasi Pembangunan
Di antaranya, GS Engineering & Construction Corp STX Corporation, Monolith Co., Ltd., yang akan menjadi dasar membangun dan mengoperasikan pabrik nikel berdasarkan terobosan technology (MACH) lisensi milik Monolith Co., Ltd. (*)
(TribunnewsSultra.com/Muh Ridwan Kadir)