Berita Buton Utara

ATN Indonesia Mineral Investasi Rp3,5 T Bangun Pabrik Nikel di Butur Didukung Pemkab Buton Utara

Pemerintah Kabupaten Buton Utara (Pemkab Butur) mendukung penuh pembangunan pabrik nikel kelas satu di daerah tersebut.

Penulis: Muh Ridwan Kadir | Editor: Sitti Nurmalasari
TribunnewsSultra.com/ Muh Ridwan Kadir
Bupati Buton Utara (Butur), Ridwan Zakariah. 

Baca juga: Pembangunan Pabrik Smelter Nikel HPAL di Pomalaa Kolaka Dimulai, Menko Luhut Sebut Produksi Terbesar

Katanya, hal itu guna membangun pabrik nikel kelas satu sebagai bahan utama baterai kendaraan listrik serta bahan turunan lainnya yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

"Melihat perkembangan beberapa pabrik di Indonesia termasuk Sultra, selama ini lebih banyak hanya mengolah nikel jadi nickel pig iron dan ferronickel, lalu diturunkan jadi stainless stell, lainnya," jelasnya.

Alman menambahkan sementara itu, pabrik nikel bernilai tinggi seperti mixed hydroxide precipitate (MHP) atau mixed sulphide precipitate (MSP) yang digunakan untuk menjadi prekursor atau katoda.

Lalu, prekursor itu yang akhirnya menjadi baterai kendaraan listrik, yang mana masih belum banyak berdiri di Indonesia.

Kata dia, perusahaan memilih akan membangun dan mengoperasikan pabrik pengolahan nikel sesuai terobosan technology Monolith Co., Ltd., Monolith Advanced Clean Hydrometallurgy (MACH).

Baca juga: Presiden Jokowi Bakal Tinjau Pabrik Aspal Buton, Kadin Sultra Harap Kepala Negara Keluarkan Keppres

"Jadi pilihan ini kami ambil, setelah melakukan studi dari teknologi pengolahan nikel yang ada," ujar Alman Susmanto.

Katanya, teknologi terbarukan pertama di Indonesia tersebut untuk memproduksi produk bernilai tinggi seperti Nickel Hydroxide, Crude Fe-Ni, Magnesium Oxide, Silica, dan lainnya.

Karena melalui teknologi ramah lingkungan, tanpa terak, tanpa limbah cairan yang keluar, teknologi yang sangat aman dari sisi ekologi, dengan tidak menggunakan tekanan tinggi, dan lainnya.

Kemudian, jelas Alman Susmanto, dari segi ekonomi CAPEX dan OPEX jauh lebih rendah dari fasilitas peleburan lainnya.

"PT ATN Indonesia Mineral, sangat sadar dan mendukung program Pemerintah Indonesia yang telah melarang ekspor mineral non-olahan," tuturnya.

Baca juga: Proyek Pembangunan Pabrik Baterai 1.700 Hektare di Kendari Batal? Penjelasan Wali Kota Sulkarnain

"Di mana larangan itu untuk mencegah keluarnya sumber daya alam mineral melalui ekspor barang mentah, dan berharap adanya pengembangan industri lokal," tambah Alman.

Sejauh ini, Industri Ferronickel, Nickel Pig Iron tumbuh dengan mantap, dan beberapa daerah juga telah mulai pabrik pengolahan nikel untuk baterai sekunder, ESS dan sebagainya.

Dengan adanya teknologi ini, sangat selaras dengan harapan pemerintah untuk mendukung teknologi biaya rendah, efisiensi tinggi ramah lingkungan bagi masyarakat Indonesia.

"PT ATN Indonesia Mineral dan rekanan, berencana akan membangun pabrik di wilayah Buton UtaraSulawesi Tenggara, dengan nilai investasi awal sebesar USD 200 juta atau sekitar Rp3,5 triliun," imbuhnya.

Halaman
123
Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved