Berita Kendari

Kompol La Ode Surahman Pegang Teguh Pesan Orangtua, Modal Nekat Jadi Polisi & Ubah Jalan Hidup

Pegangan dalam hidup Komisaris Polisi (Kompol) La Ode Surahman berdasarkan pesan kedua orangtuanya tetap dikenang sepanjang masa.

Tangkapan layar channel Youtube Tribunnewssultra
Wawancara khusus pada program Tribun Corner, Rabu (21/9/2022) bersama Kompol La Ode Surahman yang tayang di channel Youtube Tribunnewssultra Official. 

"Belum lagi, bayang-bayang sebagai anak kampung di sebuah desa terpencil di Wakatobi saat itu sempat membuat mimpinya terkubur," tuturnya.

Baca juga: Juara Bertahan Piala Kapolri, Polda Sultra Kini Jadi Tuan Rumah Kejuaraan Judo Bhayangkara 2022

Namun, takdir menemukan jalannya. Usaha selalu saja membuahkan hasil pada mereka yang berjuang.

Kompol La Ode Surahman meyakini hal tersebut dan kini menikmati hasil dari serpihan perjuangannya silam.

Bukan tanpa alasan, sebagai anak laki-laki dari delapan orang bersaudara mantan Wakapolres Kabupaten Muna ini kerap diberi pesan-pesan dan nilai yang ditanamkan untuk membentuk ketangguhannya.

"Janganlah melihat orang dari manfaat yang dirasakan, tapi setiap orang memberi manfaat. Karena sampah saja jika dikelola dengan baik akan menjadi sesuatu yang bernilai. Maka  buatlah sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain," tuturnya mengingat pesan orangtua.

Ayahnya menekankan untuk bisa hidup bermanfaat bagi orang lain dan tak memilih-milih.

Baca juga: 17 Personel Brimob Polda Sultra Dikerahkan Bantu Pencarian Korban Tenggelam di Pantai Batu Gong

Hal ini diwujudkannya dengan berkontribusi menjadi mantri saat sudah menjadi polisi.

Dari rumah ke rumah kala itu, ia datang memeriksa pasien yang sakit hingga menyunat anak laki-laki secara gratis dengan kemampuannya.

Tak hanya itu, meski disibukkan dengan berbagai agenda instansi, Kompol Surahman kerap terlibat dalam kegiatan adat di kampungnya Wakatobi.

Nilai budaya dan adat dipegang teguhnya, terlebih dengan gelar kebangsawanan sebagai seorang La Ode.

"Nilai adat ini harus terus dilestarikan karena kalau bukan kita siapa lagi yang akan melanjutkan," katanya.

Baca juga: Sosialisasi Tilang Elektronik Mulai 22 September, Polda Sultra Gelar Car Free Day dan Lulo Bersama

Ia memaknainya dengan sebuah perumpamaan penting dan menjadi prinsip hidup yang turut ditanamkan pada anak-anaknya.

"Lebih baik Tapa (tanpa) Agama daripada Tapa Adati. Karena nilai agama kita bisa belajar dari mana saja, tapi kalau adat susah belajarnya selain melestarikan apa yang sudah. Apalagi setiap daerah itu punya keunikan dan tradisinya masing-masing," jelasnya.

Saat  mengemban tugas menjadi seorang polisi, ayahnya pun berpesan untuk terus  berbuat kebaikan  dan tunduk pada atasan.

Halaman
123
  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved