Berita Kendari

Pedagang yang Menimbun Telur Bakal Ditindak Tegas di Kendari, Diminta Tak Memperburuk Kenaikan Harga

Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Kota Kendari bakal tindak tegas pedagang yang menimbun telur.

TribunnewsSultra.com/ Amelda Devi Indriyani
Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi dan UMKM Kota Kendari Alda Kesutan Lapae. 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Kota Kendari bakal tindak tegas pedagang yang menimbun telur.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah Kota Kendari, Alda Kesutan Lapae mengatakan tindak tegas dilayangkan lantaran saat ini harga telur sedang naik.

Sehingga, pihaknya mewanti-wanti pedagang agar tidak menimbun telur yang akan semakin memperburuk kenaikan harga.

Selain itu, pihaknya akan terus mengontrol sejumlah pasar tradisional di Kendari agar tidak terjadi penimbunan dan tidak memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan pribadi.

"Jika kami dapati oknum pedagang yang bermain, kita akan berikan sanksi tegas," ujar Alda Kesutan Lapae, Rabu (31/8/2022).

Baca juga: Pemerintah Beri Sinyal Kenaikan Harga BBM, Pertamina di Sulawesi Sebut Belum Dapat Instruksi

Untuk diketahui, harga telur sejumlah pasar tradisional di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) mengalami kenaikan.

Dari yang sebelumnya dijual dengan harga Rp45 ribu hingga Rp55 ribu per rak, kini naik menjadi Rp60 ribu hingga Rp65 ribu per rak.

Menurutnya, kenaikan tersebut bukan ditentukan dari pasar, melainkan karena kondisi produksi telur saat ini yang memang sedang berkurang.

"Setelah kami survei ke lapangan memang pasokan yang masuk dari wilayah selatan seperti Makassar dan wilayah lain itu sedang berkurang," ujarnya.

"Setelah dihitung memang di atas 50 persen turunnya dan kami membenarkan adanya kenaikan karena kurangnya pasokan telur ini," tambahnya.

Baca juga: SPBU dan SPBN di Kendari Dijaga Ketat Polisi Antisipasi Antrean Kendaraan Jelang Kenaikan Harga BBM

Alda Kesutan Lapae memprediksi kelangkaan telur ini tidak akan berlangsung dalam kurun waktu lama, melainkan akan terjadi sekira satu bulan ke depan.

"Sebenarnya kita juga ada ayam petelur dan sementara sedang berproses, kita melihat beberapa wilayah seperti Konawe Selatan dan daerah lainnya itu ada ayam petelur," ujarnya.

"Nah hasil penelitian teman-teman itu kurang lebih satu bulan ke depan sudah bisa menghasilkan telur," jelasnya menambahkan.

Ia menyampaikan, pihaknya akan memberikan pengertian kepada masyarakat agar memahami kondisi kenaikan harga telur ini sehingga tidak ada panic buying yang terjadi. (*)

(TribunnewsSultra.com/Amelda Devi Indriyani)

  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved