Berita Konawe Kepulauan

Ratusan Emak-emak di Konawe Kepulauan Deklarasi Tolak Tambang, THR dan Sembako dari PT GKP

Emak-emak di Konawe Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar deklarasi tolak tambang.

Penulis: Fadli Aksar | Editor: Muhammad Israjab
Istimewa
Ratusan emak-emak di Konawe Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar deklarasi tolak tambang.(Foto: Istimewa) 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Ratusan emak-emak di Konawe Kepulauan, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar deklarasi tolak tambang.

Selain tolak tambang, mereka juga menolak menerima tunjangan hari raya atau THR dan bantuan sembako dari PT Gema Kreasi Perdana (GKP).

Deklarasi tersebut dipimpin emak-emak dengan menggunakan alat pengeras suara dan diikuti ratusan warga pria dan wanita.

Baca juga: Warga Konawe Kepulauan Sulawesi Tenggara Demonstrasi di Kementerian ESDM, Minta Izin PT GKP Dicabut

Seratusan warga ini berasal dari Masolo Raya atau gabungan dari 3 daerah, antara lain Desa Masolo, Sinar Masolo, dan Sinaulu Jaya Kecamatan Wawonii Tenggara.

Deklarasi ini berlangsung di Masolo Raya, Kecamatan Wawonii Tenggara, Kabupaten Konkep, Provinsi Sultra, pada Rabu (27/04/2022).

Dalam video berdurasi 26 detik, tampak seorang emak-emak berbaju dan berjilbab merah muda memimpin deklarasi.

Emak-emak itu memegang alat pengeras suara lalu memekik takbir di atas tanah ditumbuhi rumput hijau.

Dihadapan emak-emak ini, ratusan warga terlihat membawa spanduk bernada penolakan terhadap tambang.

"Kami masyarakat Sinaulu Jaya, menolak THR dan bantuan sembako dalam bentuk apapun dari PT GKP," ucap seorang emak-emak dengan suara lantang.

Baca juga: Pemprov Sultra Bakal Tinjau Ulang Perizinan Tambang PT GKP dan RTRW di Konawe Kepulauan

Dalam peta izin usaha pertambangan (IUP) PT GKP lahan yg akan ditambang terdiri dari gunung Roko-roko Raya, Nambo Jaya Raya, dan Mosolo Raya. 

Salah seorang warga Desa Sinaulu Jaya, Wa Asna mengatakan, kehadiran tambang akan berdampak buruk pada pencemaran mata air untuk kebutuhan minimum, mandi dan memasak.

"Sumber air yang kami gunakan untuk minum mandi dan memasak dari mata air langsung, ketika tambang masuk maka air akan tercemar, kami akan kesulitan mendapatkan air bersih," kata Wa Asna.

Warga Desa Sinar Masolo bernama La Tonda mengatakan, kehadiran tambang di daerah itu juga mengancam perkebunan warga.

Pasalnya, lahan perkebunan warga sudah ditanami kelap, cengkeh, jambu dan pala sejak 1955 setelah migrasi dari Buton Selatan.

"Ketika tambang PT GKP masuk, maka tanaman kami tidak bisa lagi produksi, terancam mati akibat aktivitas tambang," tandasnya.(*)

(TribunnewsSultra.com/Fadli Aksar)

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved