Idulfitri 2022

Penjelasan MUI Sultra Terkait Hukum Membatalkan Puasa saat Perjalanan Mudik

Berikut ini penjelasan Ketua Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Tenggara (MUI Sultra), Dr Abdul Gaffar, pada Senin (25/4/2022).

Penulis: Husni Husein | Editor: Muhammad Israjab
Tribunnews.com
ILUSTRASI - penjelasan Ketua Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Tenggara atau MUI Sultra soal hukum membatalkan puasa dalam perjalanan mudik. 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Berikut ini penjelasan Ketua Majelis Ulama Indonesia Provinsi Sulawesi Tenggara atau MUI Sultra soal hukum membatalkan puasa saat perjalanan mudik.

Kerap kali umat muslim saat dalam perjalanan mudik lebaran harus menghentikan ibadah puasanya. Lalu bagaimana hukum membatalkan puasa saat perjalanan mudik Lebaran Idul Fitri?.

Hal ini disebabkan beberapa faktor, misalnya mual dalam perjalan atau terpaksa harus minum karena harus mengkonsumsi obat pusing saat melakukan mudik.

Baca juga: Muntah Saat Perjalanan Mudik Tidak Membatalkan Puasa? Ini Penjelasan MUI Sultra

Lantas bagaimana hukum mengenai hal ini?. Selengkapnya berikut ini penjelasan Ketua Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sulawesi Tenggara (MUI Sultra), Dr Abdul Gaffar, pada Senin (25/4/2022).

Dr Abdul Gaffar mengatkan perkara ini telah disebutkan dalam Al Quran dan beberapa ulama menafsirkannya beragam.

"Dalam Alquran itu diabadikan Faman Kana Wa minkum kalau ada diantara kalian pada bulan puasa itu sakit atau melaksanakan perjalanan maka tidak apa-apa untuk tidak puasa," katanya.

Lebih lanjut kata dia, meski demikian umat muslim yang telah diwajibkan untuk berpuasa itu wajib hukumnya untuk menggantinya pasca bulan Ramadan.

"Jadi itu memang ada keringanan bagi musafir, tapi bukan berarti kalau musafir berpuasa itu tidak sah. Tetap sah hanya saja jika tidak puasa karena bepergian merasa susah tidak nyaman ketika puasa dalam perjalanan," jelasnya.

Untuk itu, dalam perkara ini disebutkannya Dr Abdul Gaffar adalah perusahaan atau keringanan yang diberikan bagi saudara muslim yang tidak bisa melaksanakan puasa dalam perjalanan.

"Memang ulama berbeda pendapat ada mengatakan perjalanan dimaksud dilihat dari jaraknya. Ada ulama kita yang berpendapat bukan jarak tapi susahnya Masako pemberatnya kondisi atau kesusahan," tutur Dr Abdul Gaffar.

Baca juga: Syarat Penerbangan Terbaru dalam Masa Mudik Lebaran 2022 di Bandara Haluoleo Kendari

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved