NATO Terpecah saat Bahas Perang Rusia-Ukraina, Dilema Bicara dengan Vladimir Putin
Sekutu NATO disebut terpecah dalam bahasan mengenai kesepakatan damai potensial yang akan dicapai antara Rusia dan Ukraina untuk mengakhiri perang.
Penulis: Nina Yuniar | Editor: Ifa Nabila
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/putin-dan-biden.jpg)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Sekutu NATO disebut terpecah dalam bahasan mengenai perang antara Rusia dengan Ukraina.
Ketika sekutu NATO membahas persyaratan dari setiap kesepakatan damai potensial yang akan dicapai antara Rusia dan Ukraina, tanda-tanda perpecahan strategis muncul dari dalam barisan mereka.
Dilansir TribunnewsSultra.com dari Bloomberg, NATO terpecah saat memutuskan apakah mereka harus berbicara dengan Presiden Rusia Vladimir Putin atau tidak.
Dengan perang Rusia-Ukraina yang kini memasuki bulan kedua, serangkaian dilema menjadi fokus tajam.
Yakni mengenai kondisi mana yang dianggap dapat diterima oleh Ukraina untuk kesepakatan apa pun.
Baca juga: Rusia Disebut Izinkan Ukraina untuk Gabung Uni Eropa dengan Syarat Menyerah Masuk NATO
Terutama sehubungan dengan jaminan keamanan yang mungkin dapat ditawarkan oleh anggota aliansi kepada Kyiv.
Ada juga perbedaan mengenai senjata apa yang akan dikirim ke Ukraina.
Serta pada pertanyaan apakah berbicara dengan Putin bermanfaat atau tidak.
Beberapa dari perbedaan itu terungkap selama akhir pekan setelah Presiden AS Joe Biden mengatakan bahwa Putin tidak dapat tetap berkuasa dan kemudian mundur karena komentarnya menuai kritik.
Sementara itu, Steffen Hebestreit selaku Kepala Juru Bicara Kanselir Jerman Olaf Scholz, mengatakan kepada wartawan pada Senin (28/3/2022).
Baca juga: Hari Ke-35 Perang Rusia Vs Ukraina: Putin Disesatkan Penasihatnya yang Takut Ungkap Dampak Invasi
Bahwa “mengingat gambaran mengerikan yang saat ini harus kita hadapi selama beberapa hari dan sebenarnya berminggu-minggu, prioritas tertinggi untuk saat ini adalah untuk dapat mencapai gencatan senjata agar pembunuhan itu berhenti.”
Scholz membahas proses negosiasi pada Senin dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Pada pertemuan puncak para pemimpin NATO pekan lalu, Scholz memperingatkan agar tidak melakukan tindakan tergesa-gesa.
Seperti mengabaikan Undang-Undang Pendiri NATO-Rusia.
Baca juga: Dibuka oleh Presiden Turki hingga Dihadiri Abramovich, Begini Suasana Perundingan Rusia-Ukraina
Menolak kesepakatan itu akan menutup pintu Moskow secara permanen.