Breaking News:

Berita Sulawesi Tenggara

Kemenag Sulawesi Tenggara Launching Gerakan Moderasi Beragama, Jaga Islam Wasathiyah

Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Tenggara meluncurkan Gerakan Moderasi Beragama di Madrasah Menuju Tahun Toleransi 2022 di Kabupaten Buton.

Penulis: Muh Ridwan Kadir | Editor: Sitti Nurmalasari
Istimewa
Kepala Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Tenggara Zainal Mustamin meluncurkan Gerakan Moderasi Beragama di Madrasah Menuju Tahun Toleransi 2022 di Kabupaten Buton. 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Tenggara meluncurkan Gerakan Moderasi Beragama di Madrasah Menuju Tahun Toleransi 2022 di Kabupaten Buton.

Kegiatan peluncuran tersebut dilakukan Kepala Kantor (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Sulawesi Tenggara (Sultra). 

Gerakan moderasi tersebut bertujuan menumbuhkan perilaku moderasi beragama di lingkungan sekolah dan madrasah menuju tahun toleransi 2022.

Selain itu, peluncuran tersebut untuk menjaga Islam wasathiyah, yaitu Islam moderat dalam pendekatan sufistik atau pendekatan yang arif dan bijaksana oleh para ulama di masa lalu.

Kata Zainal Mustamin, Islam wasathiyah guna tetap menjaga dan tidak terkontaminasi dengan pandangan dan perilaku ekstrem dan liberal bagi masyarakat khususnya umat beragama di Kabupaten Buton.

Baca juga: Berburu Pisang Epe Legendaris di Kawasan Kendari Beach, Sambil Menikmati Pemandangan Teluk Kendari

Kakanwil Kemenag Sultra ini mengatakan Kemenag Buton berjalan lebih cepat dalam mengimplementasi program-program Kementerian Agama di daerah.

Sebutnya, program tersebut yakni Gerakan Muslim Cinta Alquran (Gema Imtaq) yang mendapat respon positif dari Bupati Buton.

"Semoga sinergi ini tetap dibangun, karena tugas kami menyemai benih untuk generasi melalui pendekatan budaya," katanya melalui keterangan resminya, Rabu (17/11/2021).

"Sedangkan bapak Bupati memberikan dukungan baik dari segi infrastruktur dan dukungan lainnya," tambah Zainal Mustamin.

Zainal Mustamin berpesan kepada guru agama agar pengamalan ajaran agama yang moderat bisa dilaksanakan, karena siswa madrasah dan sekolah merupakan calon pemimpin masa depan.

Baca juga: Tim Pengabdian FKIP UHO Latih Guru SMPN 14 Kendari Pembelajaran Berbasis Penelitian Tindakan Kelas

"Karena mereka yang gagal memahami Islam dengan benar, maka itu juga adalah kegagalan para guru agama," ujarnya.

Halaman
123
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved