Breaking News:

Kisah Cinta Putri Mako, Tanggalkan Emblem Bangsawan Jepang, Pilih Menikah dengan Orang Biasa

Keputusan berani diambil oleh Putri Mako. Putri dari Kekaisaran Jepang itu memilih meninggalkan istana demi hidup bersama sang pujaan hati.

Editor: Risno Mawandili
Nicolas Datiche / POOL / AFP
Mantan putri Jepang Mako (kanan) dan suaminya Kei Komuro (kiri), berbicara dalam konferensi pers untuk mengumumkan pendaftaran pernikahan mereka, di Grand Arc Hotel di Tokyo pada 26 Oktober 2021. 

Proses Lamaran

Meski pernikahan yang direncanakan pada tahun 2018 itu tak terwujud, namun Kei Kumoro tidak menyerah mengejar restu orangtua Mako.

Ia saat itu memutuskan berangkat ke Nerw York untuk belajar hukum, dan baru kembali ke Jepang bulan lalu.

Menurut laporan, Kei Kumoro lalu pergi melamar Moko.

Terlihat rambutnya diikat kuncir kuda, pada saat itu dan penampilannya menarik perhatian sebagai pernyataan berani untuk seseorang yang ingin menikahi seorang putri dari keluarga kekaisaran.

Singkat cerita, kedunya lalu menikah. Bahkan dokumen pernikahan pasangan itu telah diserahkan oleh pejabat istana pada Selasa pagi dan diresmikan, kata Badan Rumah Tangga Kekaisaran.

Tidak ada pesta pernikahan atau ritual pernikahan lainnya untuk pasangan itu. Pernikahan mereka tidak dirayakan oleh banyak orang, tambah Badan Rumah Tangga Kekaisaran.

Setelah menikah pasangan itu dikabarkan akan pindah bersama ke New York untuk memulai hidup baru.

Adapun pernikahan dengan Kei Komuro membuat Mako kehilangan status kerajaannya.

Namun untuk pertama kalinya dia akan memiliki nama keluarga, yaitu nama keluarga suaminya.

Mako juga diberitakan menolak mahar 140 juta yen atau Rp17,3 miliar yang menjadi haknya karena meninggalkan keluarga kekaisaran, kata pejabat istana.

Dia adalah anggota keluarga kekaisaran pertama, sejak Perang Dunia II, yang tidak menerima pembayaran.

Baca juga: Sosok Kapolres Nunukan AKBP SA Pelaku Penganiayaan Anak Buah, Eks Komandan Batalyon Gegana Brimob

Untuk diketahui, sebagian besar wanita Jepang harus meninggalkan nama keluarga mereka sendiri saat menikah karena undang-undang yang mewajibkan hanya satu nama keluarga per pasangan yang sudah menikah.

Hilangnya status kerajaan Mako berasal dari Hukum Rumah Kekaisaran, yang hanya mengizinkan suksesi laki-laki.

Hanya bangsawan laki-laki yang memiliki nama rumah tangga, sedangkan anggota keluarga kekaisaran perempuan hanya memiliki gelar dan harus pergi jika mereka menikah dengan rakyat biasa.

Contoh paternalisme era sebelum perang juga tercermin dalam kebijakan gender Jepang yang banyak dikritik sebagai hal yang usang, termasuk undang-undang yang mengharuskan pasangan menikah untuk menggunakan hanya satu nama keluarga, hampir selalu nama suami.

Praktik suksesi khusus laki-laki hanya menyisakan Akishino dan putranya, Pangeran Hisahito, di belakang Kaisar Naruhito.

Sebuah panel ahli yang ditunjuk pemerintah sedang mendiskusikan suksesi monarki Jepang yang stabil, tetapi kaum konservatif masih menolak suksesi perempuan atau mengizinkan anggota perempuan untuk memimpin keluarga kekaisaran. (*)

Artikel ini telah tayang di Tribunnews.com dengan judul Menikahi Orang Biasa, Putri Mako Tinggalkan Kekaisaran Jepang dan Akan Mulai Hidup Baru di New York

Sumber: Tribunnews.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved