Berita Kendari
Pengalaman Pengajar Muda Elis dan Sidiq saat Datang ke Konawe, Lalui Medan Sulit Penuh Lumpur
Pengajar Muda XX Elis mengatakan perasaanya saat datang pertama kali di Kabupaten Konawe ia melalui medan jalan yang agak sulit.
Penulis: Muh Ridwan Kadir | Editor: Muhammad Israjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/gerakan-indonesia-mengajar.jpg)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Pengajar Muda XX Elis dan Sidiq menceritakan pengalaman pertamanya saat pertama kali datang di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Diketahui, keduanya terpilih menjadi pengajar muda di Kabupaten Konawe tepatnya di desa Amboniki dan Parudongka, mereka berada di Konawe sejak Februari 2021 sehingga terhitung 6 bulan berjalan.
Elis sebagai pengajar muda mengatakan perasaanya saat datang pertama kali di Kabupaten Konawe ia melalui medan jalan yang agak sulit.
"Menuju Desa Amboniki itu lumayan sulit, terutama medannya seperti melewati jembatan dan jalanan yang penuh lumpur," ucapnya, Rabu (1/9/2021).
Hal itu diungkapkan dalam acara Tribun Corner dengan tema Gerakan Indonesia Mengajar di Konawe "Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi" dipandu Jurnalis TribunnewsSultra.com, Sri Rahayu.
Berlangsung di Kantor TribunnewsSultra di Kelurahan Lahundape, Kecamatan Kendari Barat, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Disarankan secara langsung melalui kanal Facebook dan Youtube dengan akun Tribunnews Sultra Official.
Lanjut, Elis menyebut perjalanan untuk sampai kesana juga cukup memakan waktu yang lumayan lama yaitu sekitar 5 jam.
Namun kata Elis, ketika sampai ke desa Amboniki ia merasa sangat bersyukur hal itu karena perjalanan telah usai setelah melewati perjuangan dalam medan yang rumit.
"Ketika sampai disana saya merasa warga di desa Amboniki merupakan keluarga baru, karena setiap ada acara apapun itu saya selalu diajak warga untuk ikut berpartsipasi,"ungkapnya.
Baca juga: Kesan Elis dan Sidiq Pengajar Muda di Konawe Sebut Kehangatan Warga, Suka Sinonggi dan Molulo
Elis menambahkan, karena disana merupakan desa pegunungan dan cuacanya juga cukup ekstrim maka setelah sampai disana pertama kali itu ia sempat sakit seminggu.
Hal itu menurut Elis, mungkin itu merupakan bentuk adaptasi dari tubuhnya terhadap cuaca di desa itu.
Sudah enam bulan bertempat di desa itu ia merasa nyaman selain dari warganya yang menyambut dengan baik, pemandangannya juga cukup indah sehingga disana ia sangat menikmati.
"Desanya cukup kecil sehingga warga di Desa Amboniki rasa kekeluargaannya itu cukup erat dan sesampainya disana untuk bersosial dengan warga juga cukup cepat,"tutupnya.
Sementara itu ditempat yang sama, Pengajar Muda XX Sidiq mengatakan pertama kali ke Desa Parudongka ia cukup kaget karena desa tersebut cukup jauh dari pusat Kabupaten Konawe.
"Namun walau jauh dari pusat Kabupaten Konawe saya merasakan kekeluargaan di desa itu cukup hangat dan menerima saya dengan baik,"ujarnya.
Kesan
Elis dan Sidiq merupakan Pengajar Muda XX dalam Gerakan Indonesia Mengajar, mereka pun membagikan pengalamannya serta kesannya selama di Kabupaten Konawe.
Keduanya, merasa diterima baik oleh masyarakat dimana mereka ditempatkan, serta selalu mengingat makanan khas yaitu Sinonggi dan juga tarian Molulo.
Diketahui, keduanya terpilih menjadi pengajar muda di Kabupaten Konawe tepatnya di desa Amboniki dan Paladongka.
Mereka berada di Konawe sejak Februari 2021 sehingga terhitung 6 bulan berjalan.
Elis menyebut, pengalaman paling berkesan selama tinggal di Amboniki yaitu pada saat Festival Ramadhan.
"Saat itu kegiatannya cukup besar, saya juga sempat ragu apa kegiatannya bisa diselesaikan dengan baik atau tidak, dan alhamdulillah berjalan lancar kegiatan pawai obornya," ucapnya.
Lanjut Elis, Ia juga merasa sangat bersyukur selaku tenaga pengajar muda dapat ditempatkan di desa tersebut karena ternyata masyarakatnya sudah melek terhadap dunia pendidikan.
Baca juga: Cerita Inspiratif Elis dan Sidiq Ikut Gerakan Indonesia Mengajar di Konawe, Simak Tipsnya Biar Lolos
"Kesan lainnya juga di desa Amboniki dimana saya ditempatkan yaitu sering disuguhkan makanan khas lokal Sultra yaitu Sinonggi," ucapnya.
Sehingga Elis selalu berpikir apabila nantinya ia sudah tak ditempatkan di desa tersebut maka momen tersebut yang sangat dirindukan nanti kedepannya.
Hal yang sama dengan Sidiq, pengalaman paling berkesan yaitu pada saat bulan ramadhan pada Idul Fitri merupakan pengalaman pertamanya jauh dari sanak keluarga.
"Dan yang membuat saya merasa bahagia dan terharu yaitu saya banyak mendapatkan kehangatan bersama masyarakat disana, mereka menerima saya dengan sangat baik,".
Sidiq menyebut apabila nantinya akan dipindahtugaskan ia akan selalu mengingat Tarian Molulo ciri khas Sultra tersebut.
Perlu diketahui, Gerakan Indonesia Mengajar adalah suatu yayasan untuk meningkatkan pendidikan di tingkat daerah di seluruh Indonesia.
Tak terkecuali di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, Gerakan atau yayasan tersebut telah menjangkau hingga ke tingkat desa.
Terdapat tujuh desa yang ada di Kabupaten Konawe yang menjadi sasaran Gerakan Indonesia Mengajar salah satunya yaitu Parudongka dan Amboniki.
Terdapat dua pengajar muda yang ditempatkan di desa yang berada di Kabupaten Konawe tersebut yaitu Sidiq dan Elis. (*)
(TribunnewsSultra/Muh Ridwan Kadir)