Apriyani Rahayu
Terlalu Banyak Hinaan Diterima Apriyani Rahayu, Kata Sang Ayah Ungkap Perjuangan Putrinya
Euforia keberhasilan Apriyani Rahayu dan Greysia Polii meraih medali emas bulutangkis ganda putri di Olimpiade Tokyo 2020 masih terasa.
Penulis: Arman Tosepu | Editor: Aqsa
Amiruddin mengatakan, saat kecil Apriyani sering bermain bulutangkis menggunakan raket yang dimiliki almarhum ibunya.
Namun, dia menggunakan raket bekas tak layak pakai kala masih anak-anak.
“Belum bisa beli raket dulu, masih disambung-sambung (tali senar),” jelas Amiruddin.
Seiring berjalannya waktu minat dan potensi putrinya itu semakin kelihatan.
Mereka pun membelikan raket untuk Apriyani.
Tak sekadar raket, halaman rumah pun disulap menjadi lapangan bulutangkis seadanya.

Turnamen Pertama
Dengan bakat dan potensi yang dimiliki putrinya itu, kata Amiruddin, Apriyani mulai mengikuti turnamen bulutangkis saat masih usia dini.
Sekitar tahun 2006, ada seorang guru yang mencari bibit atlet untuk mewakili kecamatan bertanding untuk tingkat Kabupaten Konawe.
“Alhamdulillah, ada temannya yang bilang 'ada teman ku, siapa namanya? Apriyani Rahayu' sudah mi dia suruh bawa raket,” ujar Amiruddin.
Kala itu, Apriyani kemudian dibawa ke sekolah untuk dilatih dan diuji oleh gurunya.
Gurunya pun menilai Apriyani layak mewakili kecamatan untuk turnamen tingkat kabupaten.
Saat turnamen tingkat kabupaten itulah Apriyani menorehkan prestasi pertamanya di dunia bulutangkis.
Namun, itupun tak diraih Apriyani dengan mudah.
Meski sudah menang di babak final, pertandingan yang sudah dimenangkan Apriyani diminta diulang lagi.
Baca juga: Cerita Ayah Apriyani Rahayu saat Masa Kecil Putrinya: Main Bulutangkis Pakai Raket Bekas