Hari Kartini 2021
Akademisi UHO WA Ode Nur Iman Jadikan Hari Kartini Ajang Refleksi: Peran Wanita Terwujud Sehari-hari
Pasalnya, Hari Kartini 2021 hanyalah momentum karena makna sebenarnya telah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Amelda Devi Indriyani | Editor: Fadli Aksar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/wa-ode-nur-iman-soal-kartini.jpg)
Wanita kelahiran Desa Oelongko, Kecamatan Bone, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada 22 Agustus 1984 ini, dulunya aktif di kegiatan organisasi dan pergerakan mahasiswa.
Organisasi pertamanya adalah Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI Unit UHO), dengan basic Palang Merah Remaja (PMR) yang ia peroleh saat di bangku SMA.
Sejak menjadi mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UHO, ia juga bergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 2004.
Hingga kini semangatnya untuk bergerak ke arah yang lebih baik tak pernah pudar.
"Saya menolak tua, dalam hal ini saya ingin semangat itu yang tetap muda, jadi usia bagi saya bukan ukuran untuk tidak semangat dalam gerakan apapun," ungkapnya.
Ia bersekolah mulai di SD Negeri 2 Oelongko, saat ini menjadi SD 14 Parigi, dan tamat pada 1996.
Lanjut di SMP N 1 Raha tamat 1999 dan SMA N 1 Raha tamat 2002.
Baca juga: Makna Hari Kartini bagi Sekretaris Daerah Provinsi Sultra, Tegaskan Emansipasi, Hapus Diskriminasi
Baca juga: Hari Kartini, Kapolsek Baruga Sosialisasi Penghapusan Kekerasan Perempuan dan Anak di Watubangga
Sejak kecil ia suka dengan sastra, pada akhirnya di masa kuliah ia kembali aktif ikut latihan baca puisi dan teater.
Karir dan Prestasi
Ia juga pernah menoreh prestasi mewakili Sultra dalam Pekanbaru Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) pada 2006.
Ia berhasil mendapat juara 3 di Peksiminas yang diadakan di Makassar.
Untuk kategori lomba baca puisi, juara 1 Jawa Timur, juara 2 Jawa Tengah, dan juara 3 Sulawesi Tenggara yakni Nur Iman.
Tak sampai disitu, ia menamatkan pendidikannya pada 2008 selama 5 tahun 6 bulan di pendidikan bahasa Indonesia FKIP UHO.
Kemudian karirnya ia mulai sejak 3 bulan sebelum ujian skripsi. Saat itu ada penerimaan penyiar di TVRI Sultra.
Ia mendaftarkan diri sebagai penyiar reporter dengan pesaing 100 lebih pendaftar, ia berhasil masuk dalam 10 terbaik.