Mengenal Wawan, Warga Kendari yang Jadi Dosen di 5 Universitas di Filipina
Far Eastern University merupakan kampus terkenal, lantaran banyak alumninya menjadi penjabat negara hingga presiden di Filipina.
Penulis: Muhammad Israjab | Editor: Fadli Aksar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/muhammad-kurniawan-rachman.jpg)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Wawan (29), warga Jalan Mayjend Katamso, Kelurahan Baruga, Kecamatan Baruga, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), menjadi dosen Bahasa Indonesia di 5 universitas di Filipina.
Ke-5 kampus itu yakni, University of the Philippines Dilman, Centro Escolar University, Philllipines Women’s University, University Perpetual Help, dan Far Eastern University.
Far Eastern University merupakan kampus terkenal, lantaran banyak alumninya menjadi penjabat negara hingga presiden di Filipina.
Seperti mantan Presiden Filipina, José P. Laurel, Perdana Menteri Pertama Apolinario Mabini.
Tak hanya pejabat negara, sejumlah selebriti juga pernah menimba ilmu di Far Eastern University, seperti Laarni Lozada, Carmi Martin dan Hwang In-Yeop.
Baca juga: Sosok Lettu Pnb Muhammad Fachry Nosar, Penerbang Pesawat Tempur F-16 Fighting Falcon Asal Sultra
Baca juga: Kisah Seorang Polisi di Kendari: Didik 65 Anak Jalanan, Sisihkan Gaji Rp2 Juta Perbulan
Pria bernama lengkap Muh Kurniawan Rachman ini bercerita, di negara kekuasaan Rodrigo Duterte itu, dia mulai mengajar 200 mahasiswa, pada Februari 2021
Di setiap universitas Wawan mengajar sebanyak lima kali.
Pertemuan dilakukan satu kali setian pekan, dengan diikuti dua kelas.
Setiap kelas berjumlah sekira 35 sampai 40 mahasiswa, kelas kecil sekitar 9 orang.
"Pada saat mengajar ada dua kelas," kata Wawan saat dihubungi melalui whatsApp messenger, Jumat (19/2/2021).
Wawan terpaksa menggelar pembelajaran jarak jauh (PJJ) karena pandemi Covid-19 masih melanda Filipina.
Proses pembelajaran pun dilakukan melalui platform seperti Zoom atau Microsoft Team.
Hal itu menjadi tantangan baru baginya, sebab dia harus berinovasi untuk menarik perhatian mahasiswa.
Apalagi, waktu yang terbatas menjadi kendala untuk berinteraksi efektif dengan ratusan mahasiswanya.
Kendati begitu, antusias tinggi mahasiswa Filipina yang ingin belajar Bahasa Indonesia menjadi motivasi bagi Wawan.