Sabtu, 9 Mei 2026

Berita Wakatobi

Malam Kajiri Tradisi Masyarakat Wakatobi saat Hari ke-27 Ramadan, Diyakini Datangnya Lailatul Qadar

Masyarakat di Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, memiliki tradisi khas dalam memperingati malam ke-27 Ramadan 1447 Hijriah.

Tayang:
zoom-inlihat foto Malam Kajiri Tradisi Masyarakat Wakatobi saat Hari ke-27 Ramadan, Diyakini Datangnya Lailatul Qadar
Istimewa/Dokumentasi Mentara.id
MALAM LAILATUL QADAR - Masyarakat di Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), memiliki tradisi khas dalam memperingati malam ke-27 Ramadan 1447 Hijriah yang dikenal dengan Malam Kajiri. Tradisi tersebut digelar oleh anak-anak muda Desa Posalu di Masjid Nurul Amal, Dusun Taibete, Senin (16/3/2026) malam. 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Masyarakat di Pulau Wangi-Wangi, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara (Sultra), memiliki tradisi khas dalam memperingati malam ke-27 Ramadan 1447 Hijriah yang dikenal dengan Malam Kajiri.

Tradisi tersebut digelar oleh anak-anak muda Desa Posalu di Masjid Nurul Amal, Dusun Taibete, Senin (16/3/2026) malam.

Kegiatan bertajuk Hepatirangga Melala ini menjadi inisiatif para pemuda setempat sebagai upaya melestarikan budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Malam ke-27 Ramadan di Pulau Wangi-Wangi dipercaya sebagai malam turunnya Lailatul Qadar yaitu malam penuh kemuliaan dan keberkahan.

Olehnya itu, masyarakat merayakannya dengan menggunakan patirangga atau pacar yang menghiasi tangan.

Patirangga menjadi simbol bahwa masyarakat tetap terjaga pada malam tersebut untuk beribadah dan berharap mendapatkan rahmat Lailatul Qadar.

Baca juga: Pemerintah Gelar Sidang Isbat Penentuan Lebaran Idul Fitri 2026 Tepat 29 Ramadan 1447 H

Selain itu, warga juga menyalakan lampu atau sulu di setiap rumah sebagai penanda agar rumah dapat memperoleh keberkahan Ramadan.

Sebelum Malam Kajiri digelar, masyarakat mencari kemiri dan sulu atau getah dari hutan terlebih dahulu untuk digunakan sebagai bahan bakar pengganti lilin.

Kemiri tidak hanya dipakai untuk menyalakan lampu tradisional, tetapi juga dimanfaatkan dalam permainan tradisional.

Kemiri yang sudah dikumpulkan kemudian ditumbuk dan dicampur dengan kapas untuk dijadikan bahan bakar yang menyerupai lilin.

Sementara itu, para gadis biasanya mempersiapkan patirangga atau pacar yang akan digunakan pada malam hari.

Pacar tersebut dibungkus menggunakan dedaunan alami sebagai bagian dari tradisi yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Pada malam puncak, masyarakat bersama-sama mengenakan patirangga sebagai simbol persaudaraan sekaligus pengingat akan malam Lailatul Qadar.

Tradisi ini juga menjadi cara masyarakat untuk tetap terjaga dari tidur, sehingga bisa memperbanyak ibadah.

Sembari berharap memperoleh keberkahan serta syafaat di malam yang diyakini penuh kemuliaan tersebut. (*)

(TribunnewsSultra.com/Apriliana Suriyanti)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved