Selebrasi Lokal 2026
Pegiat Literasi di Kendari Jagokan Jepang di Piala Dunia 2026, Puji Permainan Kolektif Samurai Biru
Momentum Piala Dunia 2026 segera berlangsung mulai 11 Juni mendatang turut menjadi perhatian masyarakat di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
Penulis: Dewi Lestari | Editor: Desi Triana Aswan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Pegiat-Literasi-Kendari-Rajab-dukung-Jepang-di-Piala-Dunia.jpg)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI -Â Momentum Piala Dunia 2026 segera berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada mulai 11 Juni mendatang turut menjadi perhatian masyarakat di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Menjelang bergulirnya turnamen sepak bola terbesar di dunia ini, sejumlah warga mulai menentukan tim favorit yang didukung.
Salah satunya pegiat literasi di Kendari, Rajab Ghazi, yang menjagokan Timnas Jepang pada ajang empat tahunan itu.
Menurutnya, Samurai Biru menjadi tim yang paling menarik perhatiannya karena mengandalkan permainan kolektif dibandingkan kemampuan individu para pemain.
“Di Piala Dunia tahun ini saya mendukung Jepang. Mereka lebih mengedepankan permainan kolektif daripada individual. Determinasi pemain-pemainnya juga tinggi dan pressing mereka sangat kuat,” kata Rajab kepada TribunnewsSultra.com, Senin (1/6/2026).
Baca juga: Shin Tae-yong Akui Kerja Keras Pemain Timnas Indonesia, Yakin Masih Ada Harapan di Piala Dunia 2030
Ia menyampaikan, perkembangan sepak bola Jepang dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang signifikan.
Bahkan, sejumlah tim besar dunia pernah mengalami kesulitan menghadapi permainan yang diterapkan skuad Samurai Biru.
Kata dia, keberhasilan Jepang ini tidak terlepas dari racikan pelatih Hajime Moriyasu yang mampu memadukan pemain yang berkarier di kompetisi domestik dengan mereka yang bermain di liga-liga Eropa.
“Jepang punya gaya bermain yang sangat baik. Hajime Moriyasu berhasil menggabungkan pemain dari liga Jepang dan Eropa seperti Takefusa Kubo, Wataru Endo, dan Takehiro Tomiyasu. Itu membuat tim mereka semakin solid,” ujarnya.
Meski demikian, Rajab mengakui ke dalaman skuad Jepang masih berada di bawah beberapa negara unggulan seperti Spanyol, Portugal, Brasil, maupun Prancis.
Namun, ia menilai kekuatan utama Jepang bukan terletak pada kualitas individu, melainkan kekompakan tim saat bermain di lapangan.
“Sebenarnya kedalaman skuad Jepang tidak terlalu baik jika dibandingkan negara-negara besar. Tetapi kunci mereka ada pada permainan kolektif. Mereka bermain sebagai satu tim,” tuturnya.
Rajab menyebut salah satu pemain yang berpotensi menjadi pembeda bagi Jepang di Piala Dunia 2026 adalah Ritsu Doan.
Menurutnya, pemain berusia 27 tahun itu kerap memberikan dampak besar ketika masuk sebagai pemain pengganti pada babak kedua.
Kecepatan dan daya juang Doan menjadi senjata penting saat menghadapi lawan yang mulai kehilangan stamina pada paruh kedua pertandingan.