Menyapa Nusantara
Menggiring Dadu Ekonomi Kreatif Indonesia
Program Pemberdayaan Desa Kreatif dan pelatihan keterampilan untuk UMKM kriya dan kuliner dicanangkan agar masyarakat di akar rumput ikut naik tangga.
Penulis: Content Writer | Editor: Amelda Devi Indriyani
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Ilustrasi-permainan-ular-tangga-ANTARA-FOTOMOHAMMAD-AYUDHA.jpg)
Langkah cerdas Kemenekraf terlihat dalam rencana program mereka. Misalnya, Pemberdayaan Desa Kreatif dirancang agar potensi budaya dan alam desa bisa diolah jadi produk unggulan.
Program Industri Kriya dan Kuliner untuk UMKM pun disiapkan, mulai dari pelatihan menenun hingga olahan pangan lokal. Dukungan akses ke e-commerce akan membuka pasar yang lebih luas bagi produk-produk itu.
Tak berhenti di situ, ada pula strategi pembiayaan. Kekayaan Intelektual (KI) akan didorong sebagai agunan kredit, sesuai aturan pemerintah.
Bagi pelaku ekraf kecil, ini bisa jadi tangga penting untuk mengakses modal yang selama ini sulit digapai. Selain itu, program Sekolah Rakyat Kreatif dan Koperasi Merah Putih berbasis Ekraf ditargetkan menjadi inkubator keterampilan dan usaha, terutama bagi kelompok miskin serta UMKM yang baru merintis.
Semua ini adalah jawaban atas kritik. Anggaran besar tidak cukup kalau tidak menyentuh akar masalah. Karena itu, Kemenekraf merancang program yang menukik langsung ke masyarakat. Kritik dijadikan bahan koreksi, bukan sekadar dianggap serangan.
Ekonom dunia John Howkins, yang memperkenalkan konsep creative economy, mengatakan bahwa “kreativitas adalah sumber daya yang tak terbatas; semakin sering digunakan, semakin besar nilainya.”
Pandangan ini sejalan dengan strategi Kemenekraf: membangun tangga kecil di berbagai daerah agar kreativitas rakyat bisa naik kelas dan bernilai ekonomi.
Pada akhirnya, masa depan ekraf Indonesia bukan hanya soal angka-angka atau besaran anggaran, tetapi soal langkah demi langkah.
Apakah setiap langkah membawa kita naik tangga, atau justru tergelincir ke ular. Tantangan selalu ada, tetapi harapan juga terbuka lebar.
Kemenangan dalam permainan ini bukan milik Kemenekraf seorang diri. Kemenangan sejati adalah milik seluruh rakyat Indonesia ketika ekonomi kreatif berhasil membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan, dan membawa kesejahteraan nyata.
Seperti dalam permainan ular tangga, yang menang bukan hanya yang beruntung, melainkan yang sabar, bijak, dan konsisten melangkah.
Kalau strategi ini dijalankan dengan sungguh-sungguh, maka kotak terakhir di papan permainan bukan lagi mimpi, melainkan tujuan bersama yang bisa dicapai.(*)
*) Rioberto Sidauruk adalah Pemerhati Ekonomi Kreatif, saat ini bertugas sebagai Tenaga Ahli AKD DPR RI
(ANTARA/Rioberto Sidauruk/Jumat, 26 September 2025)
| Kebijakan Terarah Bupati Ikbar Perkuat Kinerja Ekonomi Konawe Utara Sepanjang Tahun 2025 |
|
|---|
| Tenun Konasara Dongkrak Ekonomi Keluarga di Konawe Utara, Ibu-Ibu Perajin Wawolesea Banjir Pesanan |
|
|---|
| Wali Kota Kendari Ingatkan Warga 'Sampah Bukan Hal Menjijikkan', Jadi Solusi Ekonomi Rumah Tangga |
|
|---|
| Ekonomi Sulawesi Tenggara Tumbuh 5,65 Persen, Ada Industri Ekspor hingga Digitalisasi, Inflasi Aman |
|
|---|