Berita Kendari

Waspada Potensi Angin Puting Beliung di Sultra Saat Pergantian Musim, Kenali Tanda-tandanya

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara sebut fenomena angin puting beliung terjadi selama masa transisi.

Istimewa
Waspada Potensi Angin Puting Beliung di Sultra Saat Pergantian Musim, Kenali Tanda-tandanya 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara (Sultra) sebut fenomena angin puting beliung terjadi selama masa transisi.

Sebelumnya, angin puting beliung sempat terjadi dan merusak salah satu rumah warga di Kelurahan Anggoeya, Kecamatan Puuwatu, Kota Kendari pada pekan lalu.

Selain itu, angin puting beliung juga terjadi di Pasar Laino Raha, Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Hal ini sebagaimana video viral kejadian angin puting beliung beredar luas melalui WhatsApp Messenger (WA), Facebook, dan berbagai platform media sosial (medsos) lainnya pada Rabu (16/11/2022).

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Sulawesi Tenggara, Aris Yunatas mengatakan masa transisi ini terjadi akibat peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan pada November dan Desember 2022.

Baca juga: Detik-detik Angin Puting Beliung Terjang Rumah Warga di Kolaka, Atap Rumah Berputar-putar di Udara

Akibatnya, selama masa transisi ini akan ada cuaca ekstrem yang sering terjadi, di antaranya angin puting beliung, hujan deras disertai petir, dan angin kencang berdurasi pendek, sehingga perlu diwaspadai.

"Jadi sejak bulan kemarin. Saat ini, Sultra memasuki musim hujan. Namun, durasi masa peralihan ini tidak dapat ditentukan," jelasnya saat dikonfirmasi TribunnewsSultra.com melalui telepon, Rabu (16/11 2022).

"Hanya saja kita sudah memprediksi prakiraan awal musim hujan di Sultra antara November sampai Desember. Nah, bulan ini yang perlu diwaspadai peralihan pancaroba atau masa transisi," tambahnya.

Kata dia, angin puting beliung disebabkan oleh kondisi cuaca yang panas baik di pagi maupun siang hari, kemudian di sore hari muncul awan kumulonimbus yang cukup besar dan cukup rendah.

Kondisi ini jadi pemicu terjadinya angin puting beliung di suatu daerah, utamanya daerah kurang pohon-pohon atau pesisir yang memiliki cuaca panas, sehingga muncul potensi angin puting beliung.

Baca juga: Video Viral Angin Puting Beliung Porak-porandakan Lapak Pedagang Pasar Laino Raha Sulawesi Tenggara

"Jadi angin puting beliung ini cuaca ekstrem harus tetap diwaspadai, beda dengan tornado dan siklon tropis," ujarnya.

"Untuk angin puting beliung lebih ke lokal durasinya pendek dan tidak terlalu besar tetapi sangat merusak jadi perlu diwaspadai," jelasnya menambahkan.

Ia mengingatkan pemerintah daerah dan masyarakat waspada dengan kondisi saat ini, menyiapkan diri, update informasi terbaru BMKG kondisi ekstrem yang akan terjadi selama masa transisi atau pancaroba.

Selain itu, jika sudah memasuki musim penghujan, maka harus waspada bencana hidrometeorologi atau akibat dari musim penghujan seperti banjir bandang hingga longsor.

Apalagi, saat ini fenomena LaNina juga masih aktif meskipun dalam fase lemah, tetapi dampaknya juga perlu diwaspadai.

Baca juga: Angin Puting Beliung Hantam Pemukiman Warga Desa Puusangi Konawe, 1 Orang Luka, 3 Rumah Rusak

"Ini harus kita waspadai selain masa transisi tadi, karena kita tahu masalah musim hujan tentu banyak juga dampak bencana hidrometeorologinya," jelasnya. (*)

(TribunnewsSultra.com/Amelda Devi Indriyani)

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved