Video Viral

Blak-blakan Pemilik Tanah yang Dituding Tutup Jalan Justru Korban Tetangga ‘Saya Perjuangkan Hak’

Blak-blakan pemilik tanah, Ratnawati (55), yang dituding tutup akses jalan mobil tetangga di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Penulis: Amelda Devi Indriyani | Editor: Aqsa
Amelda/ TribunnewsSultra.com
Suasana rumah Ratnawati (55) yang sedang dibangun pondasi dan menyisakan akses jalan selebar 1,4 meter yang diwakafkannya sebagai solusi tetangganya di Jalan Raden Suprapto, Kelurahan Mandonga, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Perempuan tersebut mengungkapkan fakta di balik tudingan tetangganya yang telah menutup akses jalan masuk ke rumahnya. 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Blak-blakan pemilik tanah, Ratnawati (55), yang dituding tutup akses jalan mobil tetangga di Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).

Kabar penutupan jalan tersebut sebelumnya beredar luas melalui video viral di TikTok.

Lokasinya berada di Jalan Raden Suprapto Nomor 83A, RT 16 RW 04, Kelurahan Mandonga, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari, Provinsi Sultra.

Terbaru, Ratnawati memberikan penjelasan terkait tudingan yang disampaikan tetangganya bernama Bahar Syamsuddin (61) itu.

Ratnawati pun menegaskan tak sepenuhnya menutup jalan dan mewakafkan tanah selebar 1,4 meter agar bisa dilalui pejalan kaki dan sepeda motor sebagai solusi.

Baca juga: Pengakuan Warga Kendari yang Akses Jalan Masuk Rumahnya Ditutup Tetangga dalam Video Viral TikTok

Berdasarkan pengakuannya, Ratnawati justru menjadi korban klaim lahan oleh tetangganya itu.

Diapun berkali-kali menghadapi gugatan dari sang tetangga meski akhirnya dimenangkannya hingga putusan inkrah (tetap).

Menurut Ratnawati, tanah atau lahan tersebut seluas 380 meter persegi (m⊃2;).

Sertifikat atas nama ibunda Ratnawati yakni Hayati yang kemudian dibalik nama ke Bahar Syam tanpa sepengetahuan dirinya.

“Itu kalau ke notaris harus ada suami istri, ini sama sekali saya tidak tahu,” katanya ditemui TribunnewsSultra.com di kediamannya pada Senin (15/8/2022).

“Saya yang punya tanah, saya yang digugat, korban balik nama, bahkan di gugatan itu saya harus bayar setiap hari Rp1 juta,” jelasnya.

Digugat Tetangga di Pengadilan

Ratnawati menjelaskan awal mulanya Bahar meminjam sertifikat tersebut pada tahun 2005 silam.

Kemudian, pihaknya meminta untuk dikembalikan pada tahun 2010 sampai tiga kali secara kekeluargaan.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved