Minggu, 26 April 2026

Dipaksa Berbuat Asusila dengan Kucing, Bocah SD Depresi hingga Meninggal Dunia

Bocah SD di Tasikmalaya dipaksa teman-temannya untuk berbuat asusila dengan kucing sambil direkam, korban yang depresi pun meninggal dunia.

Tayang:
Penulis: Nina Yuniar | Editor: Wahid Nurdin
zoom-inlihat foto Dipaksa Berbuat Asusila dengan Kucing, Bocah SD Depresi hingga Meninggal Dunia
YouTube Official iNews
Makam bocah SD di Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar) yang meninggal dunia setelah jadi korban dugaan pembullyan oleh teman-teman sebayanya. Bocah 11 tahun itu dipaksa berbuat asusila dengan seekor kucing sambil direkam hingga videonya tersebar. Korban pun mengalami depresi dan kondisi kesehatan fisiknya menurun sampai harus dilarikan ke rumah sakit. Saat menjalani perawatan di rumah sakit, korban akhirnya meninggal dunia. 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Miris, seorang bocah kelas 5 SD di Tasikmalaya, Jawa Barat (Jabar) meninggal dunia setelah jadi korban dugaan perundungan oleh teman-temannya.

Bocah berusia 11 tahun itu dipaksa teman-teman sebayanya untuk berbuat asusila dengan seekor kucing sambi direkam pada Juni lalu.

Video korban tengah melakukan perbuatan asusila dengan seekor kucing itu pun tersebar.

Akibatnya, korban mengalami depresi hingga kondisi fisiknya menurun dan harus dilarikan ke RSUD CM Tasikmalaya.

Baca juga: Pemuda Sebar Video Asusila dengan Mantan Pacar yang Masih SMA, saat Ditanya Alasan Ngakunya Iseng

Korban kemudian meninggal dunia saat menjalani perawatan di rumah sakit.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia Tasikmalaya (KPAID) lantas melaporkan kasus ini ke Polres Tasikmalaya.

Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua KPAID Tasikmalaya, Ato Rinanto.

"Kami sudah melaporkan ke Polres Tasikmalaya," ujar Ato, Kamis (21/7/2022) seperti dilansir TribunnewsSultra.com dari kanal YouTube Official iNews.

Baca juga: Video Asusila Main Bertiga Hingga Dipaksa Bersetubuh Sesama Jenis di Baubau Viral, Nasib Pilu Korban

Ato menjelaskan bahwa pelaporan polisi ini dibuat pihaknya agar menimbulkan efek jera bagi pelaku dan tak ada korban lagi di masa mendatang.

"Tidak bermaksud mencelakakan tetapi ini adalah sebuah proses edukasi, bagaimana memotong mata rantai sehingga menimbulkan efek jera kepada siapapun yang melakukannya," terang Ato.

"Kami mengharapkan dari proses pelaporan ini tidak akan terjadi lagi korban-korban berikutnya yang diduga akibat perudungan," lanjutnya.

Meski penyebab pasti kematian korban belum diketahui, KPAID Tasikmalaya menduga hal ini berkaitan dengan peristiwa yang dialami murid SD tersebut.

Baca juga: Gadis ABG Dicabuli Sopir Truk, Jemput Korban Lalu Lakukan Aksi Asusila di Parkiran SPBU

"Dari beberapa rangkaian-rangkaian peristiwa, dari pendalaman-pendalaman yang kami lakukan, dengan gejala-gejala yang memang dihadapi oleh ananda korban ini, kami menduga ada korelasinya dengan video yang beredar itu," kata Ato.

"Dan ada korelasinya dari peristiwa-peristiwa mungkin dalam tanda kutip pem-bully-an yang dilakukan oleh teman-teman sebayanya," sambungnya.

Adapun kini jenazah korban telah dimakamkan di TPU dekat kediaman keluarganya.

(TribunnewsSultra.com/Nina Yuniar)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved