UPDATE Hari Ke-33 Perang: Presiden Rusia Disebut Ingin Bagi Ukraina Jadi 2 seperti Korut dan Korsel
Sederet kejadian pada hari ke-33 perang Rusia dengan Ukraina yang perlu diketahui: Kyiv akan mulai sekolah online kembali hingga pembagian Ukraina.
Penulis: Nina Yuniar | Editor: Ifa Nabila
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Pidato-Presiden-Rusia-Vladimir-Putin-18-maret.jpg)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Terhitung pada Senin (28/3/2022) perang antara pasukan militer Rusia melawan Ukraina telah berlangsung selama 33 hari.
Konflik bersenjata di antara kedua negara bertetangga ini diketahui dimulai sejak 24 Februari 2022 lalu.
Yakni setelah Presiden Rusia Vladimir Putin memerintahkan pasukan militernya untuk melancarkan serangan berskala penuh ke Ukraina.
Dilansir TribunnewsSultra.com dari The Guardian, berikut sederet kejadian pada hari ke-33 perang Rusia dengan Ukraina yang perlu diketahui:
Baca juga: AS Klarifikasi soal Ucapan Joe Biden yang Dianggap Ingin Lengserkan Presiden Rusia Vladimir Putin
- Presiden Amerika Serikat Joe Biden membantah dia menyerukan perubahan rezim di Rusia.
Setelah sebelumnya, Biden mengatakan bahwa Putin 'tidak dapat tetap berkuasa'.
Diketahui bahwa hal itu diucapkan Biden saat kunjungannya ke Ibu kota Polandia, Warsawa.
Ketika ditanya oleh seorang reporter apakah dia ingin melihat Putin dicopot dari jabatannya, Biden berkata 'tidak'.
Baca juga: Rusia Hujani Lviv Ukraina dengan Rudal saat Biden Kunjungi Polandia, Ternyata Lokasinya Berdekatan
Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron telah menjauhkan diri dari komentar Biden tersebut.
Menteri kabinet Inggris Nadhim Zahawi juga menjauhkan pemerintah Inggris dari pernyataan Biden terhadap Putin tersebut.
- Perwakilan dari Rusia dan Ukraina akan bertemu minggu ini untuk putaran baru perundingan damai yang bertujuan untuk mengakhiri perang.
Ukraina mengatakan kedua pihak akan bertemu di Turki pada Senin (28/3/2022).
Baca juga: Rangkuman Hari Ke-32 Perang: Ukraina Barat Digempur Roket, Rusia Disebut Derita Kerugian Signifikan
- Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menggunakan wawancara video dengan media independen Rusia untuk menandakan kesediaannya.
Yakni untuk membahas agar Ukraina mengadopsi 'status netral'.
Serta membuat kompromi tentang status wilayah Donbas timur, untuk mengamankan perjanjian damai dengan Rusia.