Berita Wakatobi
Mengenal Tari Balumpa Wakatobi Sultra, Resmi Jadi Warisan Budaya Tak Benda di Sulawesi Tenggara
Mengenal Tari Balumpa asal Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), kini resmi jadi warisan budaya tak benda milik Sultra.
Penulis: Mukhtar Kamal | Editor: Sitti Nurmalasari
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Mengenal Tari Balumpa asal Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), kini resmi jadi warisan budaya tak benda.
Diketahui, Tari Balumpa adalah tari yang berasal dari Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara tepatnya di Pulau Binongko, pulau paling ujung di daerah ini.
Dikutip situs resmi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Kebudayaan, warisanbudaya.kemendikbud.go.id, tarian ini resmi menjadi warisan budaya tak benda pada akhir 2021.
Melalui Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya menganugerahi tarian ini sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.
Hal ini ditandai dengan penerimaan sertifikat penetapan penganugerahan itu yang diserahkan Direktur Jenderal Kebudayaan, Kemendikbudristek RI, Hilmar Farid.
Baca juga: Mengenal Warkop Haji Anto, Warung Kopi Legendaris di Kendari, Pernah Dikunjungi Presiden Jokowi
Sertifikat itu diterima langsung Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sultra, Asrun Lio, di Jakarta pada Desember 2021 lalu.
Tari Balumpa termasuk tarian pergaulan ditampilkan penari wanita untuk menyambut para tamu terhormat.
Tarian ini dominasi diperagakan menjingkrak dengan molek disertai gerakan kaki dan tangan mengayuh lentur dengan senyuman yang memikat.
Seyogyanya, tarian ini diiringi dengan tabuhan gendang dan petikan gambus khas Wakatobi yang menyikapi tabir rahasia panca indra manusia.
Asal mula Tari Balumpa ini khususnya berasal dari daerah Pulau Binongko dan daerah Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Baca juga: Mengenal Sultan Buton Himayatuddin Muhammad Saidi Mendapat Gelar Pahlawan Nasional
Konon Tari Balumpa ini menceritakan seorang gadis yang sedang berdendang diiringi lagu daerah dan diiringi musik gambus.
Tari Balumpa diperagakan wanita terdiri dari 6 hingga 8 penari dengan kostum yang dipakai pada saat menari biasanya mengunakan busana adat.
Untuk diketahui, tarian ini mempunyai empat ragam gerakan tari dengan arti makan berbeda-beda di antaranya, Potabhea, Poliughi, Poli-loli, dan Kaukuruno. (*)
(TribunnewsSultra.com/Husni Husein)