Hari Kartini 2021
Akademisi UHO WA Ode Nur Iman Jadikan Hari Kartini Ajang Refleksi: Peran Wanita Terwujud Sehari-hari
Pasalnya, Hari Kartini 2021 hanyalah momentum karena makna sebenarnya telah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis: Amelda Devi Indriyani | Editor: Fadli Aksar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/wa-ode-nur-iman-soal-kartini.jpg)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Akademisi Universitas Halu Oleo (UHO) WA Ode Nur Iman, memaknai Hari Kartini 2021 ajang untuk merefleksikan diri.
Pasalnya, Hari Kartini 2021 hanyalah momentum karena makna sebenarnya telah diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, antara laki-laki dan perempuan itu cara berpikirnya berbeda.
"Yang lebih cepat dan lebih banyak itu adalah perempuan," kata Nur Iman saat ditemui di Kantor Komisi Penyiaran Indonesia Sulawesi Tenggara, Rabu (21/4/2021).
Baca juga: Briptu Nyoman Ayu Putri, Sempat Gagal Jadi Polisi, Sebut Pesan Kartini Tak Gentar Raih Mimpi
Baca juga: Hari Kartini, Ketua Penggerak PKK Kota Kendari, Sri Lestari: Perempuan Ambil Peran di Pemerintahan
Hal ini yang membuatnya kagum pada perempuan, apalagi pada seorang ibu yang notabene banyak mengambil tenggung jawab pekerjaan.
Ia berharap untuk teman-teman yang aktif di pergerakan dan terkhusus perempuan, jangan mau kalah dengan keadaan.
Lantaran menurutnya, tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini lebih disibukkan dengan gadget.
"Mari manfaatkan gadget, jangan gadget yang manfaatkan kita," kata Nur Iman.
Ia berharap agar generasi saat ini bisa lebih cermat menggunakan gadget.
"Semua tergantung dari diri sendiri, salah satunya bagaimana bisa lebih cermat memfilter media atau kanal apa yang harus diikuti ataupun tidak ikuti, tentunya yang berhubungan dengan isu hoax," jelasnya.
Menurutnya peran ibu dan anak sangat memiliki andil besar dalam menentukan generasi kedepannya dari rumah.
Hal ini menjadi perhatian bagi yang punya keinginan mengubah pola hidup dan pola pikir masyarakat.
"Pilarnya itu ya ibu dan anak, generasi sekarang menurut saya dalam tanda kutip, sangat memprihatinkan," ungkapnya.
Di momentum hari kartini ini pula, ia mengingatkan agar generasi muda lebih memahami diri sendiri, dan bisa menyesuaikan porsi kebutuhan.
Riwayat Pendidikan
Wanita kelahiran Desa Oelongko, Kecamatan Bone, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra) pada 22 Agustus 1984 ini, dulunya aktif di kegiatan organisasi dan pergerakan mahasiswa.
Organisasi pertamanya adalah Korps Sukarela Palang Merah Indonesia (KSR PMI Unit UHO), dengan basic Palang Merah Remaja (PMR) yang ia peroleh saat di bangku SMA.
Sejak menjadi mahasiswa S1 Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) UHO, ia juga bergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada 2004.
Hingga kini semangatnya untuk bergerak ke arah yang lebih baik tak pernah pudar.
"Saya menolak tua, dalam hal ini saya ingin semangat itu yang tetap muda, jadi usia bagi saya bukan ukuran untuk tidak semangat dalam gerakan apapun," ungkapnya.
Ia bersekolah mulai di SD Negeri 2 Oelongko, saat ini menjadi SD 14 Parigi, dan tamat pada 1996.
Lanjut di SMP N 1 Raha tamat 1999 dan SMA N 1 Raha tamat 2002.
Baca juga: Makna Hari Kartini bagi Sekretaris Daerah Provinsi Sultra, Tegaskan Emansipasi, Hapus Diskriminasi
Baca juga: Hari Kartini, Kapolsek Baruga Sosialisasi Penghapusan Kekerasan Perempuan dan Anak di Watubangga
Sejak kecil ia suka dengan sastra, pada akhirnya di masa kuliah ia kembali aktif ikut latihan baca puisi dan teater.
Karir dan Prestasi
Ia juga pernah menoreh prestasi mewakili Sultra dalam Pekanbaru Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) pada 2006.
Ia berhasil mendapat juara 3 di Peksiminas yang diadakan di Makassar.
Untuk kategori lomba baca puisi, juara 1 Jawa Timur, juara 2 Jawa Tengah, dan juara 3 Sulawesi Tenggara yakni Nur Iman.
Tak sampai disitu, ia menamatkan pendidikannya pada 2008 selama 5 tahun 6 bulan di pendidikan bahasa Indonesia FKIP UHO.
Kemudian karirnya ia mulai sejak 3 bulan sebelum ujian skripsi. Saat itu ada penerimaan penyiar di TVRI Sultra.
Ia mendaftarkan diri sebagai penyiar reporter dengan pesaing 100 lebih pendaftar, ia berhasil masuk dalam 10 terbaik.
"Penyiar berita 2, reporter 2, penyiar continiti 2, penulisan naskah dan saya lupa yang jelas 10 orang," katanya.
Saat selesai kuliah, ia juga pernah mengajar sekolah swasta, namun nasibnya sama seperti di TVRI, itu tidak berlangsung lama.
Pada 2009, ia melanjutkan pendidikan S2 di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Bandung dan tamat pada 2011.
Kemudian Januari 2012, ia diterima sebagai staff di konsentrasi Prodi Sastra Indonesia di UHO.
Saat ini ia menjadi dosen sastra Indonesia di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UHO.
Seiring berjalannya waktu, ia kembali bergabung di TVRI pada Januari 2013
Di Desember 2019, ia resign dari TVRI lantaran ia masuk di Komisi Penyiaran Indonesia Sulawesi Tenggara (KPID Sultra)
"Karena kami mengawasi Penyiaran, otomatis harus keluar dari pekerjaan sebelumnya takutnya nanti tidak independen," jelasnya.
Ia memegang amanah sebagai Pengawasan isi siaran KPID Sultra.(*)
(TribunnewsSultra.com/Amelda Devi Indriyani)