TRIBUN WIKI
Sosok Kolonel Pnb Muzafar, Pilot Empat Presiden RI yang Kini Menjabat Danlanud Kendari
Kurang lebih sudah 300 misi penerbangan pesawat kepresidenan dituntaskan Kolonel Pnb Muzafar.
Penulis: Laode Ari | Editor: Risno Mawandili
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/kolonel-pnb-muzafar.jpg)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI- Komandan Pangkalan Angkatan Udara (Danlanud) Haluoleo (HLO) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Kolonel Pnb Muzafar, lahir di Malang pada 6 Maret 1974.
Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU) satu ini pernah menjadi pilot penerbangan pribadi empat presiden di era yang berbeda-beda.
Tugas menjadi pilot presiden telah ia emban sejak era Presiden Republik Indonesia (RI) BJ Habibie hingga Presiden Joko Widodo (Jokowi).
Secara rinci, ia telah melayani Presiden RI BJ Habibie, Aburrahman Wahid (Gus Dur), Megawati Soekarno Putri, Susilo Bambamg Yudhoyono (SBY), dan Presiden Jokowi.
Kurang lebih sudah 300 misi penerbangan pesawat kepresidenan dituntaskan Kolonel Pnb Muzafar.
Ia juga pernah menjabat di Squadron udara 45 Helikopter VIP Kepresidenan yang bermarkas di Lanud Halim Perdanakusuma.
Satuan ini bertugas mengantar atau mengawal presiden dan wakil presiden dalam tugas kenegaraan.
“Squadron 45 Helikopter VIP kepresidenan itu dibentuk 2011 dan saya ditunjuk untuk mempimpin satuan tersebut,”kata Muzafar saat dihubungi TribunnewsSultra.com belum lama ini.
Penerbangan Malam Hari yang Menegangkan
Selama kariernya sebagai pilot, alumni Akademi Pangkatan Udara (AAU) TNI AU Yogyakarta yang lulus pada 1995 ini pernah memiliki pengalaman menegangkan.
Momen tak terlupakan itu terjadi pada malah hari. Ketika mengawal penerbangan Wakil Presiden Jusuf Kalla dari Sulawesi Selatan (Sulsel), Kota Palopo menuju Makassar.
Ia mengatakan, situasi menegangkan malam itu diperburuk oleh cuaca ekstrem.
“Sesuai jadwal saat itu kami seharusnya pulang ke Makassar sore hari. Namun karena ada permintaan keluarga, jadi pak Jusuf Kalla minta penerbangan pulang waktu malam hari saja. Itu permintaan langsung dari Pak JK (saapan akrab Jusuf Kalla),” ujarnya.
Tentu saja situasi seperti demikian merupakan hal baru bagi Muzafar saat itu.
Sebab standar penerbangan pejabat negara harus dilakukan pada siang hari.
Namun ia tak dapat menolak perintah wakil presiden. Hal yang mampu dilakukan saat itu hanyalah menguatkan mental dan menyiapkan strategi penerbangan.
Agar penerbangan lancar, ia lantas membagi tim menjadi tiga. Tujuannya agar tugas lebih efektif dan efisien.
Akhirnya, sekira pukul 20.15 WIB, penerbangan dari Palopo menuju Bandara Sultan Hasanuddin dilakukan.
Ia menjelaskan, tiga unit pesawat digunakan untuk mengangkut rombongan wakil presiden.
“Pesawat pertama yang membawa pejabat negara, kedua pesawat cadangan, dan tiga pesawat berisi rombongan staf bahkan wartawan,”ujarnya.
Tiga pesawat tersebut seharusnya terbang secara bersamaan.
Namun hujan lebat di wilayah Sulawesi memaksa penerbangan dilakukan secara terpisah.
Demi keamanan penerbangan, Muzafar meminta pilot dan kru pada masing-masing pesawat menjaga jarak minimal 1000 kaki (feet).
“Pesawat pertama yang saya bawa terbang dengan ketinggian 4000 feet, pesawat kedua ketinggian 5000 feet dan pesawat ketiga 6000 feet,”tuturnya.
Karena Muzafar sering mendapat pelatihan untuk menerbangkan pesawat dalam kondisi seperti itu, sehingga penerbangan menuju Makassar malam itu aman terkendali.
Esok harinya, penerbangan mengantarkan Wakil Presiden dari Makassar menuju Jakarta dilanjutkan menggunakan pesawat British Airospace RJ 85. Penerbangan menuju Jakarta terbilang aman dan terkedali.
Ditegur Ajudan Ani Yudhoyono
Ada pengalaman lain tak dapat dilupakan Muzafar. Yakni pada saat menyetir pesawat yang ditumpangi Ibu Negara Ani Yudhoyono.
Saat itu, Istri Presiden RI ke-6 hendak mengunjungi Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada 2011.
Ani hendak mendampingi Presiden SBY menyaksikan langsung korban bencana alam banjir di Kabupaten Manggarai.
Dalam perjalanan udara itu Muzafar sempat ditegur ajudan Ibu Ani (sapaan akrab Ani Yudhoyono). Tepat ketika pesawat melitasi Taman Wisata Pulau Komodo, Flores, NTT.
Pasalnya, hari itu Ibu Ani nyaris terjatuh dari pesawat terbang. Ketika hendak memotret Pulau Komodo.
Muzafar bercerita, ibu negara yang dikenal hobi mengabadikan momen perjalanan itu sedang duduk di kursi sebelah kiri dekat jendela pesawat.
Tujuannya agar memudahkan pemotretan Pulau Komodo dari dalam pesawat yang sedang terbang.
Ketika Ibu Ani mendapat spot bagus, Muzafar malah menggiring pesewat ke arah kanan yang menyebabkan Ibu Ani kaget dan tubuhnya sempat tak seimbangan.
“Yah, jadi karena saya tidak tahu kalau posisi spot yang dimaksud itu sebelah kiri, dan pesawat saya miringkan ke kanan. Ternyata ibu Ani sudah berada di sisi kiri jendela untuk memotret dan hampir terjatuh karena posisi pesawat miring ke kanan,”jelas Muzafar.
Menjabat Danlanut LHO Kendari
Kolonel Pnb Muzafar dilantik sebagai Danlanud HLO Kendari pada 13 Desember 2019. Menggantikan Kolonel Pnb Nana Resmana.
Dua tahun sudah ia mengemban tugas memimpin Pangkalan Udara yang beralamat di Kelurahan Ambaipua, Ranomeeto, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara itu.
Terhitung sejak serahterima Jabatan (Sertijab) dilaksanakan di Ruang serbaguna Mako Komando Operasi Angkatan Udara II Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Sebelum menjabat Danlanud, Ia bertahun-tahun bertugas sebagai Komandan Wing Udara 4, Pangkalan Udara Atang Sendjaja, Bogor Jawa Barat, sejak 16 Januari 2019
Lelaki yang lahir di Malang, 6 Maret 1974 ini merupakan pilot pesawat kepresidenan yang terbilang senior.
Ia telah melayani tujuh presiden selama kariernya sebagai pilot.
Alumni Angkatan Udara tahun 1995 ini akhirnya dipromosikan sebagai Danlanud HLO Kendari ketika Presiden Jokowi menjabat lagi pada periode kedua. (*)
Laporan Reporter TribunnewsSultra.com, La Ode Ari