Sabtu, 2 Mei 2026

Beredar Kabar WA Vaksin Covid-19 Jokowi Gagal dan Harus Diulang, Profesor Beri: Dari Injeksi Sinovac

Beredar kabar di WhatsApp bahwa vaksin Sinovac untuk Jokowi gagal. Dokter spesialis penyakit dalam Zubairi Djoerban ungkap fakta sebenarnya.

Tayang:
Penulis: Ifa Nabila | Editor: Ifa Nabila
zoom-inlihat foto Beredar Kabar WA Vaksin Covid-19 Jokowi Gagal dan Harus Diulang, Profesor Beri: Dari Injeksi Sinovac
Tribunnews/HO/Biro Pers Setpres/Muchlis Jr - Twitter/@Profesor Zubairi.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat divaksin Covid-19 - Profesor Zubairi Djoerban 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadi orang pertama di Indonesia yang mendapatkan vaksinasi Covid-19 pada Rabu (13/1/2021).

Tak lama kemudian, beredar kabar di WhatsApp bahwa vaksin yang disuntikkan kepada Jokowi gagal.

Bahkan proses vaksinasi Sinovac itu kabarnya harus diulang.

Menanggapi kabar itu, Profesor Zubairi Djoerban atau Profesor Beri menjelaskan duduk perkaranya.

Baca juga: TNI Dikabarkan Meninggal setelah Vaksin Covid-19, Mayor Sugeng Tegaskan Hoaks: Saya Lapor Polisi

Dokter spesialis penyakit dalam ini memberi klarifikasi kabar itu melalui akun Twitter @ProfesorZubairi pada Selasa (19/1/2021).

Profesor Beri menjelaskan, awal mula muncul kabar burung soal vaksin gagal adalah dari pesan seorang dokter di Cirebon.

Pesan itu menyebut bahwa injeksi vaksin Sinovac harusnya intramuskular atau menembus otot.

Untuk itu, penyuntikkan harus dilakukan dengan tegak lurus 90 derajat.

Dokter tersebut menganggap vaksin yang diterima presiden tidak menembus otot lantaran tidak 90 derajat.

Dianggapnya, vaksin itu tidak terserap ek dalam darah dan hanya sampai di bawah kulit.

Baca juga: Menko Airlangga Donor Plasma & Dipertanyakan Kapan Kena Covid-19, Epidemiolog: Kok Tidak Diumumkan?

Profesor Beri menegaskan bahwa pernyataan tersebut salah.

Ia menjelaskan, penyuntikkan tak harus tegak lurus dengan cara intramuskular, yang mana sudah menjadi pemahaman lama.

"Menyuntik itu tidak harus selalu tegak lurus dengan cara intramuskular. Itu pemahaman lama alias usang dan jelas sekali kepustakaannya," terang Profesor Beri.

Profesor Beri kemudian memberi beberapa penelitian lain sebagai referensi yang mengacu pada satu kesimpulan.

"Intinya, persyaratan sudut 90 derajat untuk injeksi intramuskular itu tidak realistis," ungkap Profesor Beri.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved