Kabar Artis
Aurelie Moeremans Sedih Buku Broken Strings Bajakan Dijual Bebas secara Online: Ternyata Banyak
Aurelie Moeremans mengungkapkan kekecewaannya saat mengetahui bahwa karya yang ditulisnya ramai dibajak.
Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Desi Triana Aswan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Tangkapan-layar-unggahan-akun-Instagram-oharabooks.jpg)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Penulis buku Broken Strings, Aurelie Moeremans mengungkapkan kekecewaannya saat mengetahui bahwa karya yang ditulisnya ramai dibajak.
Tak hanya itu, buku yang dirilis pada Oktober 2025 itu dibajak dan dipasarkan di platform online shop.
Hal ini diungkapkannya melalui akun Instagram pribadinya @aurelie pada Sabtu (7/2/2026).
Aurelie membagikan ulang postingan unggahan yang membahas buku Broken Strings bajakannya
"Ternyata banyak sekali bajakannya," tulis Aurelie disertai emotikon sedih dikutip TribunnewsSultra.com.
Baca juga: Dari Vidi Aldiano, Fitri Karlina hingga Aurelie Moeremans Komentari Postingan Selebgram Lula Lahfah
Buku itu dijual bebas dengan berbagai harga dan dari berbagai toko online.
Ada yang memasarkan puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah.
Tak tanggung-tanggu, buku itu juga dibuat dalam bentuk fisik secara legal.
Padahal, Aurelie sudah menginformasikan bahwa buku miliknya dipasarkan secara resmi oleh penerbit Ohara Books.
Penerbit juga memasarkan langsung buku Aurelie, yang bisa dipesan secara online. Bahkan siap dikirim di seluruh wilayah Indonesia.
Buku ini dijual dalam bentuk paketan dengan harga beragam.
Pembaca tak hanya mendapatkan buku, namun juga deretan ornamen pendukung lainnya seperti kaos dan aroma terapi.
Lantas apa itu buku Broken Strings ?
Buku yang ditulis aktris Aurelie Moeremans ramai diperbincangkan.
Meski bukunya tidak diterbitkan di Indonesia, tulisan Aurelie Moeremans tentang pengalaman pahit di masa remajanya membuat pembaca tersentuh.
Tulisan di buku berjudul 'Broken Strings' itu dilahirkan Aurelie Moeremans dari kegelisahan, trauma dan rasa sakit di masa remaja.
Aurelie Moeremans yang saat ini sedang hamil tua itu memilih 'jalan yang tidak biasa' ketika menuliskan kisah hidupnya di buku 'Broken Strings' dan dirilisnya melalui ebook pada 2025.
Aurelie Moeremans menjadikan buku 'Broken Strings' bukan sekadar karya literasi, melainkan menjadi ruang kejujuran yang lahir dari proses panjang dan penuh kehati-hatian.
Secara emosional, kisah dalam buku 'Broken Strings' telah disimpannya bertahun-tahun sebelum dituangkan dalam susunan kalimat-kalimat indah.
"Penulisannya cukup panjang, cerita aku simpan di kepala dan hati selama bertahun-tahun, dan menulisnya dilakukan intens dalam beberapa bulan," kata Aurelie Moeremans pada Tribunnews.com, Rabu (14/1/2026).
Aurelie Moeremans memang ingin menuliskan kisah hidupnya itu secara hati-hati.
"Menulis pelan-pelan, satu per satu, aku ingin setiap bagian dituliskan jujur dan hati-hati," ucap Aurelie Moeremans.
Kejujuran Aurelie Moeremans menjadi fondasi utama dalam penulisan buku 'Broken Strings'.
Sejak awal, tulisan itu sama sekali tidak dimaksudkan Aurelie Moeremans untuk jadi bahan bacaan publik.
Aurelie Moeremans menjadikan tulisan itu sebagai medium untuk meluapkan emosi dan traumanya.
Bagi Aurelie, menulis adalah caranya berbicara dengan dirinya sendiri.
"Dulu, waktu masih kecil dan aku mencoba bersuara, responsnya justru menyakitkan, ada trauma untuk bercerita," kata Aurelie Moeremans.
Namun, Aurelie Moeremans mulai melihat pengalaman yang dianggapnya personal justru dialami banyak orang.
Kesadaran itu menjadi titik awal penulisan kisahnya dalam buku 'Broken Strings'.
"Seiring waktu, aku sadar banyak perempuan dan orang tua mengalami hal serupa dan merasa sendirian, dan dari situ aku merasa, ceritaku bisa jadi teman buat mereka," katanya.
Berdamai dengan Masa Lalu
Bagi Aurelie Moeremans, menulis Broken Strings juga menjadi proses penting untuk berdamai dengan masa lalu dan tidak ditulis dengan semangat melawan atau membalas.
"Menulis buku 'Broken Strings' bukan tentang balas dendam atau membuka luka lama, tapi memahami apa yang pernah terjadi dan menerima bahwa itu bagian dari hidupku," ucap Aurelie Moeremans.
Proses tersebut membawanya pada satu kesimpulan personal yang kuat, yakni berdamai dengan masa lalu tanpa harus memperbaiki atau membenarkan apa yang salah di waktu itu.
"Lewat buku ini, aku belajar berdamai tanpa harus membenarkan apa yang salah," ucap Aurelie Moeremans.
Merilis buku 'Broken Strings' dalam format e-book dan gratis adalah penegasan bahwa orientasi komersial bukan tujuan utama buku ini.
"Aku ingin ceritanya bisa diakses siapapun yang membutuhkan, tanpa hambatan," jelas Aurelie.
Selama menjalani masa kehamilan setelah menikah dengan Tyler Bigenho, Aurelie Moeremans mengaku berada dalam fase refleksi yang sangat intens, yang membuatnya banyak menulis.
Jika suatu hari kembali menulis buku, temanya masih beririsan dengan perempuan dan rasa trauma yang masih dekat dengannya.
Hal yang mengharukan bagi Aurelie adalah ketika banyak perempuan muda dan orang tua yang merasa suara mereka terwakili oleh tulisannya.
Lewat Broken Strings, Aurelie Moeremans tidak hanya menuliskan kisah hidupnya.
Ia juga membuka ruang dialog, refleksi, dan pemulihan sebuah keberanian untuk jujur yang menemukan gema jauh melampaui apa yang pernah ia bayangkan.
Buku itu membahas trauma dan masa lalu kelam Aurelie Moeremans ketika mengalami child grooming saat masih remaja.
Ia menjalani hubungan yang menipulatif bersama seorang pria yang jauh lebih dewasa ketika itu.
Pria itu kemudian dituliskan Aurelie dengan nama samaran 'Bobby'.
(WartaKotalive.com) (TribunnewsSultra.com/Desi Triana)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.