Harga BBM Naik di Sultra
Sehari di Kendari saat Harga Pertamax Naik, Mahasiswa Demo, Ojol Pasrah, Antrean BBM RON 92 Sepi
Harga Pertamax yang mengalami penyesuaian banyak mendapat reaksi dari berbagai pihak, termasuk di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/satu-hari-di-Kota-Kendari-saat-harga-Pertamax-naik-mahasiswa-demo-spbu-sepi-ojol.jpg)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Harga Pertamax yang mengalami penyesuaian banyak mendapat reaksi dari berbagai pihak, termasuk di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kondisi ini, berdampak yang cukup signifikan bagi rakyat.
Dalam satu hari di Kota Lulo, berbagai hal terjadi, aksi demonstrasi para mahasiswa, ojek online (ojol) yang hanya bisa pasrah, termasuk antrean bahan bakar minyak (BBM) jenis RON 92 atau Pertamax terpantau sepi.
Tepatnya pada 10 Juni 2026, harga Pertamax naik cukup tinggi.
Kenaikan harga berlaku mulai di seluruh wilayah pemasaran Pertamina.
Harga Pertamax (RON 92) kini menjadi Rp 16.250 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter.
Sementara di wilayah Sulawesi Tenggara, harga Pertamax saat ini mencapai Rp16.650.
Meski nonsubsidi, tapi Pertamax menjadi salah satu pilihan warga dengan ekonomi menengah.
Baca juga: Tak Tahu Harga Pertamax Naik, Pengecer di Jalan Malaka Kendari Kaget Pembeli Borong hingga 3 Botol
Warga ekonomi menengah biasanya memilih menggunakan Pertamax karena mayoritas kendaraan modern atau keluaran terbaru.
Untuk kendaraan baru kebanyakan menuntut penggunaan bahan bakar jenis Pertamax atau BBM RON 92.
Pasalnya, mesin modern memiliki rasio kompresi lebih tinggi.
Sehingga, RON 92 dinilai lebih tahan terhadap pembakaran dini dibanding RON 90 atau RON 88.
Hal ini akan sangat berpengaruh pada mesin.
Ketika kendaraan menggunakan RON 92, dapat mengurangi risiko knocking yang dapat merusak mesin dalam jangka panjang.
Biagar performa mesin optimal dan tidak cepat rusak.
Dan masih banyak alasan lainnya, mengapa warga memilih menggunakan Pertamax.
Sayangnya, dalam sekejap semua berubah saat pengumuman dari Pertamina Patra Niaga terkait harga Pertamax terbaru.
Berikut ini rangkuman TribunnewsSultra.com, tentang sehari yang terjadi di Kota Kendari setelah pengumuman tersebut:
1. Demonstrasi
Di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO) juga menggelar aksi penolakan terhadap kenaikan harga BBM non subsidi.
Demonstrasi berlangsung di kawasan Bundaran Tank sejak pukul 16.00 hingga 21.00 Wita dan sempat diwarnai pembakaran ban bekas di tengah jalan.
Aksi tersebut menyebabkan kepadatan lalu lintas di kawasan Anduonohu yang merupakan salah satu pusat aktivitas bisnis baru di Kota Kendari.
Dalam orasinya, mahasiswa menilai kenaikan harga BBM semakin memperberat beban masyarakat yang saat ini sudah menghadapi tekanan ekonomi akibat naiknya harga kebutuhan pokok dan menurunnya daya beli.
"Kebijakan ini kian mencekik rakyat. Beban ekonomi masyarakat sudah berat, ditambah lagi dengan kenaikan harga BBM yang berdampak pada rantai distribusi dan harga barang kebutuhan lainnya," ujar salah satu massa aksi saat menyampaikan orasi.
Mahasiswa menilai pemerintah kurang mempertimbangkan dampak ekonomi maupun psikologis yang dirasakan masyarakat, terutama kelompok menengah ke bawah.
Mereka juga berencana memperluas gerakan dengan melakukan konsolidasi bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) lintas jurusan dan berbagai perguruan tinggi di Kendari guna membangun aksi yang lebih besar dan terorganisir.
2. Antrean BBM RON 92 Sepi di SPBU Tapak Kuda
Masih di Kendari, hari yang sama saat pengumuman penyesuaian harga Pertamax, antrean RON 92 di SPBU Tapak Kuda, Kelurahan Korumba, Kecamatan Mandonga, Kota Kendari, terlihat sepi pada hari pertama penerapan harga baru, Rabu (10/6/2026).
Berdasarkan pantauan Tribunnewssultra.com sekitar pukul 16.00 Wita di lokasi, area pengisian Pertamax tampak tidak dipadati kendaraan seperti biasanya.
Sejumlah sepeda motor dan mobil datang silih berganti untuk mengisi bahan bakar, namun tidak sampai menimbulkan antrean panjang di jalur pengisian.
Kondisi tersebut berbeda dengan situasi pada jam pulang kantor di hari biasanya.
Pada waktu tersebut, antrean kendaraan umumnya terlihat mengular di sekitar dispenser Pertamax.
Berkurangnya antrean Pertamax ini juga dibenarkan Pengawas SPBU Tapak Kuda, Jahidin Tomok saat dikonfirmasi Tribunnewssultra.com.
Ia mengatakan berdasarkan pemantauan sementara sejak pukul 06.00 Wita hingga 16.00 Wita, jumlah kendaraan yang mengisi Pertamax berkurang dibandingkan hari biasa.
Menurutnya, pada pukul 16.00 Wita, biasanya kendaraan sudah cukup banyak karena masyarakat mulai pulang kerja, tetapi hari ini tidak terlalu ramai.
“Berkurangnya antrean ini setelah harga baru Pertamax yang berlaku sejak pukul 00.00 Wita, Rabu (10/6/2026). Harganya naik dari Rp12.600 menjadi Rp16.650 per liter,” ujarnya.
Meski demikian, Jahidin belum dapat memastikan seberapa besar dampak kenaikan harga terhadap jumlah konsumen Pertamax.
Evaluasi akan dilakukan setelah data penjualan terkumpul dalam 24 jam.
“Untuk mengetahui apakah penurunannya signifikan atau tidak, kami masih menunggu hasil pemantauan setelah 1x24 jam,” jelasnya.
3. Ojol di Kendari Pasrah
Jurnalis TribunnewsSultra.com memantau salah satu SPBU Kendari berlokasi di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Bende, Kecamatan Kadia.
Sekira pukul 11.30 Wita, tampak mobil dan motor mengantre untuk pengisian BBM Pertalite.
Antrean kendaraan roda empat bahkan mengular hingga ke Jalan Kolonel H Abdul Hamid, Kecamatan Kadia.
Sementara antrean roda dua tidak begitu panjang namun jumlah sepeda motor mencapai belasan unit.
Meski Pertamax naik, beberapa pengendara motor dan mobil tampak tetap mengisi jenis bahan bakar tersebut.
Seperti yang dilakukan oleh Hamzah, seorang driver ojek online (ojol) yang hendak mengantarkan pesanan.
"Kami sebagai ojol memang terasa berat, dari yang pertama Rp12 ribu sekian naik Rp4 ribu," katanya diwawancarai TribunnewsSultra.com.
Namun apa boleh buat, Hamzah sebagai pengguna BBM jenis Pertamax hanya bisa pasrah.
Jika sebelumnya dia bisa mendapatkan 1,98 liter sampai 2,38 liter dengan budget Rp25 ribu-Rp30 ribu.
Kini Hamzah hanya memperoleh 1,50 liter hingga 1,80 liter saja.
"Apa boleh buat, mau tidak mau kita harus beli daripada harus mengantre Pertalite lama sementara kita ada orderan," jelasnya.
Sementara itu, seorang pengendara mobil, Onu La Ola usai mengisi Pertamax menyebut, kenaikan harga BBM ini tidak begitu terasa untuk kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN)
Namun, jelas berdampak bagi para pekerja swasta.
"Wiraswasta pasti rasakan, beda dengan pegawai negeri atau DPR karena mereka sudah ada alokasi untuk BBM," ujarnya.
Adapun daftar harga terbaru BBM di Provinsi Sultra per hari ini yaitu:
Pertamax Rp16.650, Pertamax Pertashop Rp16.550, Pertamax Turbo: Rp21.200. Lalu Pertamina Dex Rp25.350, Dexlite Rp23.500, Pertalite Rp10.000, dan Biosolar Rp6.800.
Baca juga: Cuaca Kendari Hari Ini 11 Juni 2026, Diprediksi Terjadi Hujan Ringan Dari Mandonga hingga Nambo
Pertamina Jelaskan Alasan Kenaikan Harga
Sekretaris Perusahaan Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan penyesuaian harga dilakukan setelah melalui evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah.
"Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal," kata Roberth dalam keterangan tertulis, Selasa (10/6/2026).
Menurut Pertamina, penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.
Meski demikian, perusahaan memastikan pasokan kedua jenis BBM tersebut tetap tersedia di seluruh jaringan SPBU Pertamina.
"Kami memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina," ujar Roberth.(*)
(TribunnewsSultra.com/Sugi Hartono/Apriliana/Dewi)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.