Politisi PDIP Minta Stop Bully Aura Cinta Usai Kritik Dedi Mulyadi, Nilai Ada Eksploitasi Kemiskinan
Wakil Ketua DPRD Jawa Barat sekaligus politisi PDIP, Ono Surono meminta stop pembullyan terhadap Aura Cinta. Hal inipun menjadi perhatian Ono Surono.
Penulis: Desi Triana Aswan | Editor: Desi Triana Aswan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sultra/foto/bank/originals/Wakil-Ketua-DPRD-Jawa-Barat-sekaligus-politisi-PDIP-Ono-Surono.jpg)
TRIBUNNEWSSULTRA.COM - Wakil Ketua DPRD Jawa Barat sekaligus politisi PDIP, Ono Surono meminta stop pembullyan terhadap Aura Cinta.
Sosok Aura Cinta mendadak ramai disoroti usai mengkritik Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Hal inipun menjadi perhatian Ono Surono.
Ia menduga adanya eksploitasi kemiskinan dari video yang diunggah oleh Dedi Mulyadi saat berdebat dengan Aura Cinta.
Seperti diketahui, Aura Cinta jadi sasaran hujatan setelah beradu debat dengan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Ono pun menilai sosok Aura justru patut diapresiasi karena berani mengutarakan pendapatnya.
Padahal usia Aura Cinta tergolong remaja dan masih sangat muda untuk membahas permasalahan rakyat.
Baca juga: Biodata Aura Cinta Viral Usai Dikatai Dedi Mulyadi, Ternyata Selebgram, Model Iklan, Akun Instagram
Di mana, Ono menilai sangat jarang anak seusia Aura Cinta akan melakukan kritikan pada kebijakan pemerintahnya.
"Anak muda berumur 16-17 tahun sudah bisa menyampaikan permasalahan rakyat di media sosialnya, di mana yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawab pemimpinnya sehingga sangat normatif menurut saya dan perlu diapresiasi, karena jarang sekali anak seumur itu bisa menyampaikan dengan sangat terbuka dan sangat cerdas," ujar Ono seperti dikutip dari Instagramnya pada Senin (28/4/2025).
Selain itu, menurutnya Aura Cinta juga merupakan bibit pemimpin bangsa di masa depan dengan keberaniannya mengemukakan pendapat.
Ono pun menganggap bahwa ada dugaan eksplotitasi kemiskinan hingga kekerasan verbal yang didapatkannya.
Namun, ia melihat justru betapa ironisnya apa yang dialami oleh Aura Cinta yang kini dihujat habis-habisan oleh publik.
"Di media sosial konten-konten kreator melakukan eksploitasi terhadap kemiskinan dan juga kekerasan verbal terhadap Aura Cinta. Nah, ini lah yang sangat berbahaya mereka kan hanya menguntungkan untuk dirinya supaya postingannya viral, mendapatkan keuntungan adsense dari Youtube, Instagram, TikTok, Facebook dan sebagainya," jelasnya.
Alhasil kata Ono, perundungan yang terjadi pada Aura dikhawatirkan dapat membuat mental anak-anak muda rusak dan sulit bersuara.
Ia pun mengingatkan terkait Peraturan Daerah Nomor 3 Tahun 2021 yang mengatur tentang penyelenggaraan perlindungan anak.
Di Pasal 6, kata Surono, tertera hak-hak anak yang meliputi mendapatkan hak dan perlindungan dari diskriminasi, eksploitasi baik ekonomi dan seksual, penelantaran, kekejaman, kekerasan, penganiayaan, ketidakadilan dan perlakuan lainnya.
"Dan apa yang terjadi saat ini, sudah ada eksploitasi tentang kemiskinan dan ada kekerasan maka di Perda ini siapapun yang mengetahui ada perlakuan seperti itu, kalau mereka tidak memberitahukan, mereka akan diancam penjara 3 bulan dan denda Rp 50 juta, tapi saya yakin ada pidana-pidana lainnya yang diatur oleh undang-undang," pungkasnya.
Sebelumnya diberitakan, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi terlibat perdebatan dengan seorang remaja wanita lulusan SMA asal Bekasi, Jabar, bernama Aura Cinta dalam sebuah pertemuan.
Aura hadir bersama ibunya dan sejumlah warga lain, yang merupakan korban penggusuran rumah di bantaran Sungai Bekasi.
Dalam dialog itu, Aura mempersoalkan kebijakan pelarangan acara perpisahan sekolah yang diterapkan oleh pemerintah daerah.
"Kalau tanpa perpisahan, emang kehilangan kenangan? Kenangan bukan pada saat perpisahan, tapi kenangan indah itu saat proses belajar selama tiga tahun," ujar Dedi.
"Enggak juga sih, Pak. saya ngerasa udah lulus. Kalau gak ada perpisahan, kita tuh gak bisa ngumpul bareng atau ngerasin interaktif sama teman gitu," ujar Aura.
Aura menilai, wisuda atau acara perpisahan tetap penting sebagai bentuk kenangan bersama teman-teman, meski dengan biaya yang minimal.
Namun Dedi menegaskan, kebijakan melarang perpisahan dan study tour diberlakukan untuk meringankan beban orangtua siswa.
Dedi Anggap Berani dan Cerdas
Video perdebatan antara Aura dengan Dedi Mulyadi pun beredar luas di media sosial.
Namun, publik sebagian besar tak terima dengan pandangan yang dikemukakan oleh remaja tersebut kepada Dedi Mulyadi.
Menurut mereka, opini yang disuarakan Aura keliru.
Alhasil, Aura menjadi sasaran hujatan netizen.
Kolom-kolom komentar video yang berkaitan dengan dirinya menjadi lumbung cercaan netizen.
Kendati demikian, Dedi Mulyadi tidak marah dengan Aura Cinta.
Ia tetap memuji remaja tersebut yang berani beradu debat dengannya.
Hal itu terungkap ketika Dedi mengunggah videonya kala berdebat dengan Aura.
"Anak cerdas, berani mengemukakan pendapat #sikap #karakter," tulis Dedi Mulyadi seperti dikutip Instagramnya yang tayang pada Minggu (27/4/2025).
Ia menyebutkan bahwa wisuda seharusnya hanya dilakukan di tingkat perguruan tinggi, bukan di TK, SMP, atau SMA.
"Rumahnya di bantaran kali, tapi sekolah mau gaya-gayaan ada wisuda. Rumah aja nggak punya," kata Dedi.
Viral Kritik Dedi Mulyadi
Aura Cinta viral di media sosial awalnya ia mengkritisi sejumlah hal terkait kebijakan pemerintah di Jawa Barat.
Mulai dari penggusuran rumah warga, perpisahan wisuda sekolah, hingga study tour.
Aksinya tersebut menuai sorotan publik.
Ia lantas menghadiri undangan mediasi yang dilakukan Dedi Mulyadi bersama warga.
Momen pertemuan tersebut juga ditayang di channel YouTube Dedi Mulyadi yang tayang pada 26 April 2025.
Video yang diunggah tersebut berjudul "INI PENJELASAN KDM PADA REMAJA YANG KECEWA KARENA RUMAHNYA DIBONGKAR".
Dedi melakukan mediasi bersama dengan warga termasuk Aura Cinta yang turut melakukan kritik terhadapnya.
Namun Aura Cinta lebih dulu mengkritik di media sosial pribadinya.
Aura Cinta pun sampai banjir hujatan atas sikapnya tersebut.
Menyadari hal tersebut, Dedi memahami mengapa banyak warganet menanggapi negatif kritik Aura Cinta.
Menurutnya, pemerintah provinsi mengeluarkan larangan tersebut demi meringankan beban finansial orang tua murid, khususnya bagi mereka yang tengah berjuang dalam kesulitan ekonomi.
"Terima kasih sudah kritik saya, kenapa kritik di-bully, karena orang lagi susah-susah cari duit, nggak mampu bayar wisuda, perpisahan, ini teriak-teriak pengen wisuda," ujar Dedi Mulyadi dalam sebuah video yang diunggah ke kanal YouTube pribadinya pada 26 April 2025.
Dalam kesempatan dialog tersebut, Dedi bertanya tentang rencana pendidikan Aura ke depan. Aura dengan tegas menjawab.
"Universitas Indonesia, pak, filsafat."(*)
(Tribunnews.com)(TribunnewsSultra.com/Desi Triana)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.