Kamis, 16 April 2026

Rakernas IDI di Kendari

BKKBN Harap Ikatan Dokter Indonesia Jadi Provider Dalam Edukasi Stunting

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berharap organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menjadi provider dalam mengedukasi stunti

Tayang:
Penulis: Dewi Lestari | Editor: Amelda Devi Indriyani
zoom-inlihat foto BKKBN Harap Ikatan Dokter Indonesia Jadi Provider Dalam Edukasi Stunting
(Tribunnewssultra.com/Dewi Lestari)
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berharap organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menjadi provider dalam mengedukasi stunting. 

TRIBUNNEWSSULTRA.COM, KENDARI - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) berharap organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menjadi provider dalam mengedukasi stunting di Indonesia.

Hal tersebut disampaikan Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) IDI ke-3, bertempat di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), Rabu (22/11/2023).

Kepala BKKBN, Hasto Wardoyo mengatakan banyak organisasi profesi yang tidak fokus pada profesinya.

Namun, IDI masih bisa berpegang pada fungsinya sebagai organisasi profesi dokter, sehingga ia berharap IDI tidak berfokus kepada hal lainnya agar menghasilkan produk-produk nasional.

"Dalam kasus stunting, IDI harus bisa menjadi pelopor untuk revolusi perubahan mindset kepada masyarakat," kata Hasto Wardoyo.

Kata dia, kondisi saat ini banyak orang memiliki makanan, berpendidikan tinggi dan memiliki banyak uang, tetapi terkena stunting.

Hal tersebut karena masih memiliki mindset yang salah, sehingga edukasi dari provider dalam hal ini Dokter sangat penting.

Baca juga: 1000 Dokter se-Indonesia Hadiri Rakernas IDI dan IIDI di Kota Kendari Sulawesi Tenggara

Sementara itu, Ketua PB IDI, Dr dr Muhammad Adip Khumaidi mengatakan untuk masalah stunting kuncinya adalah kolaborasi dengan melibatkan semua kompenen masyarakat.

Karena masalah stunting ini, bukan hanya permasalahan kesehatan saja melainkan dampak yang ditimbulkan akan berpengaruh pada generasi emas.

"Kami di IDI bersama pemerintah daerah memiliki program stunting dengan model-model berdasarkan kearifan lokal seperti menggerakkan gerakan orangtua asuh dokter," kata Dr dr Muhammad Adip Khumaidi.

dr Adip menyampaikan untuk mencegah gejala stunting tidak hanya diberikan telur atau susu saja, tetapi harus ada upaya yang dilakukan sejak pra nikah seperti edukasi kesehatan dari SMA harus sudah mulai ditanamkan.

Baca juga: Cara Menghindari Kanker Serviks Disosialisasikan Saat Rakernas ke-3 IDI di Kendari Sulawesi Tenggara                              

Bahkan, ada satu program yang bekerjasama dengan BKKBN yakni pemberian sertifikat sebagai bukti bahwa calon pengantin telah paham mengenai kesehatan.

"Inilah upaya yang tentunya tidak bisa kita hanya mengandalkan pemerintah, dinas kesehatan atau kementrian kesehatan saja, tetapi harus melibatkan semua pihak. Dan IDI siap untuk kemudian menjadi mitra partner utama khususnya terkait masalah stunting," jelasnya.

(TribunnewsSultra.com/Dewi Lestari)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved